Search
Close this search box.

Surat Martinus kepada Nirdawat

Nirdawat, aku sempat kecewa padamu. Bisa-bisanya kau tega bercerita yang bukan-bukan perihal korespondensi di antara kita ke Budi Darma.

Kau tahu sendiri dia tukang kibul. Dari keterangan seorang pembaca sastra yang akhir pekan kemarin mampir ke kediamanku, diam-diam rupanya kau tersanjung—persis dugaanku dulu—tatkala esainya “Andaikata Nirdawat Seorang Kritikus”bikin heboh Temu Kritikus Sastra dan Sastrawan 1984 di Taman Ismail Marzuki (TIM). Orang itu bilang kepadaku, kau mengakuinya saat datang ke rumahnya. Diam-diam aku tahan semua ini, sebab aku mau lihat apa yang bisa dikerjakan kritik sastra di kemudian hari.

Aku ingat, kau tidak hadir malam itu, Nirdawat. Malam saat Budi Darma grogi membaca esainya di hadapan forum. Beres acara, ada seorang penyair mendekatiku untuk mencairkan suasana kikuk dan berbisik di telingaku bahwa kau sakit. Aku edarkan tatapan ke sekeliling: betapa malu rasanya jadi bahan ejekan di luar kuasaku. Umurku 21 tahun, dan akan kurang ajar kalau tiba-tiba menumbuk wajahmu di sebuah forum sastra terhormat. Walau aku sebetulnya ingin sekali melakukannya malam itu.

Sekarang usiamu 73 tahun. Meski sudah payah, kau punya segalanya di sastra. Semua orang tahu. Yayasan Sastra yang kau rintis pada 1994 telah menetaskan sejarah sastra yang seolah hanya tentangmu. Yayasan itu konon tidak memberi keuntungan materi bagimu. Sejak aku mengenalmu, kau sudah kaya raya. Sebentar, jangan asumsikan aku iri padamu, Nirdawat. Sama sekali tidak. Sastra telah kutinggalkan bersamaan kita tidak pernah berhubungan.

Sialnya, aku terlambat menyadari ternyata yang terpenting di kehidupan sastra adalah prestise. Kau memang bukan kritikus, tapi caramu merendahkan membuatku trauma berkepanjangan. Bertahun-tahun aku tunggu momen yang tepat. Budi Darma wafat sebulan lalu, aku teringat peristiwa di TIM 1984. Jika kau pikun detail esainya, berikut aku kutip di sini:

[…] Nirdawat siap untuk membaca novel keempat, tetapi gagal. Istrinya datang membawa sebuah surat kilat khusus tebal. Surat ini datang dari temannya. Marilah kita bayangkan, teman ini bernama Martinus. Dalam surat ini Martinus bercerita mengenai rencananya untuk menulis sebuah novel. Dia sudah menyiapkan plotnya, latarnya, perwatakan-perwatakannya, dan lain-lain. Bahkan dia melampirkan sebuah bab bagian novel sebagai contoh rancangan.
 
Memang Nirdawat bukan pengarang. Tapi dia yakin, andaikata dia mempunyai bakat, tidak mungkin dia menulis dengan rancangan-rancangan demikian. Dari bacaan yang bagus dia menyimpulkan, bahwa pengarang yang baik pasti akrab dengan objeknya dan cara menggarap objek tersebut. Bahkan, objek dengan pendekatannya sudah menjadi satu dengan napas, persepsi, dan aspirasi pengarang sendiri. Dengan demikian, pengarang lebih banyak digerakkan oleh nalurinya dibanding dengan otaknya. Rambu-rambu penulisan tercipta dengan sendirinya pada waktu dia menulis, bukan sebelum dia menulis. Perwatakan juga akan datang dengan sendirinya tanpa dijadwalkan. Tapi Nirdawat bukan seorang pengarang, dan karena itu tidak dapat berbuat apa-apa. Dia hanya dapat mencurigai, jangan-jangan Martinus tidak pernah merasa dikejar-kejar oleh suatu persoalan. Tapi biarlah, asal novel Martinus nanti tidak dangkal.
 
Karena Nirdawat bukan kritikus sastra, dia tidak merasa mempunyai hak untuk menyatakan konsep mengenai kritik. Dia hanya dapat mengandalkan gerak-gerak hatinya pada waktu membaca kritik. Dan dia merasa adanya kritik yang dibuat-buat atau dipaksakan, sebab kritikusnya sendiri tidak merasa dikejar-kejar oleh persoalan. Seorang kritikus yang dihantui oleh sesuatu, katakanlah oleh perwatakan dalam sebuah novel, nuansa kata-kata tertentu dalam sajak, atau perdebatan batin dalam drama, pasti kritiknya akan menyiramkan api dan meledakkan semangat. Baginya, kritikus yang tidak menggoncangkan apa-apa hanyalah tukang kerajinan tangan. Kritikus demikian mirip dengan Martinus, seandainya nanti Martinus jadi pengarang.

Esai tersebut rilis di Horison XXI, No. 6, Juni 1985, hlm. 91-96. Aku kutip bagian yang mengenaiku. Budi Darma tidak menyamarkan namaku. Ketika itu aku barulah dua kali mempublikasi cerpen di Berita Buana. Tidak seberapa, tapi kau perlu tahu bahwa yang Budi Darma lakukan adalah juga mengolok-olok dirimu. Kau sadar Nirdawat, tapi pura-pura inosen.

Apa yang bisa diharapkan dari novel yang belum jadi? Jelas tidak ada. Menilainya pun tidak representatif. Aku mengirim padamu agar kita berdiskusi. Aku rela dikritik. Kau suka novel hiburan yang bagimu tidak buruk, dan membacanya adalah keisengan. Namun plot, latar, dan perwatakan dalam novelku kusiapkan sayangnya tidak berangkat dari keisengan, Nirdawat. Aku pertimbangkan segala tetek-bengek aspek struktur cerita pada draf novel yang kukirim, tanpa berpretensi agar kau puji semata. Aku tidak suka pujian. Budi Darma tidak memberi uraian selain indikasi kau mengira aku tidak berbakat.

Nirdawat, kau bukan kritikus, tapi aku sempat mengira pandanganmu tidak dangkal. Aku tarik anggapanku. Budi Darma menyebut kau yakin bakat sebagai pemberian. Aku koreksi—bakat tidak pernah terberi: ia terbentuk oleh latihan. Ceritamu ke Budi Darma paradoks, bermuka dua. Kau benci kritikus yang sulit menghindari repetisi gagasan sehingga tidak ada tawaran baru selain “kesimpulan mendadak yang dangkal”, tapi yang kau ceritakan ke Budi Darma justru memperlihatkan tabiat aslimu menilai sastra dengan naluri, bukan otak. Paradoks itu membuatku takjub. Tidak kutemukan alasan berdasarkan otakmu—atau kau sengaja lupa memakainya.

Apabila kau percaya bakat telah ada dari sananya, otakmu sama busuk dengan mereka yang kau benci. Budi Darma menyebut, selain bukan kritikus, kau juga bukan pengarang. Aduh, efek samping curigamu padaku, juga draf novelku, adalah bualan yang Budi Darma ciptakan supaya bisa mengejekmu. Dalam esainya, kau dikisahkan sering ke pergi luar negeri, ke Jepang atau ke Amerika, misalnya. Koleksi buku di rumahmu pun tidak sedikit. Sekali lagi, aku heran pernah menyangka kau berpikiran maju, kosmopolit atau apalah, kendati guna menjadi dialogis saja kau tidak sanggup. Jujur, sebelum kejadian di TIM yang hampir empat dekade silam, aku menunggu surat balasanmu.

Nirdawat, novelku bercerita tentang kematian seorang kritikus. Tokoh utamanya kritikus sastra dan inti ceritanya adalah peristiwa serangan jantung dadakan yang didera si kritikus persis setelah ia mengutarakan pledoi “Langit Makin Mendung” di persidangan. Aku percaya, kau mengerti arah penceritaan novelku. Begitu cermat aku pertimbangkan ‘rambu-rambu penulisan’ yang kau maksud. Kau mungkin luput, aku sertakan selembar terpisah ragangan premis setiap bab agar kau memproyeksi ceritaku. Bisa jadi terselip, jatuh tercecer dari draf novel yang kubuat sebisa mungkin meyakinkan. Premis awal ceritaku, si kritikus punya riwayat penyakit gula keturunan.

Aku tahu, sebuah novel adalah fiksi. Maka, hal pokok yang aku pastikan adalah logika ceritanya bisa masuk akal. Jadi, andaikata kau curiga serangan jantung dalam ceritaku mengada-ada, malah sebaliknya aku patut sangsi kau yang malah tidak bisa memisahkan realitas rekaan dengan realitas nyata. Dari informanku, konon kau tidak menyukai draf novelku lantaran ceritaku terkesan mengada-ada, dan landasannya adalah kau takut menyinggung hati si kritikus terkait—yang sebetulnya di dunia riil masih hidup—bilamana ia membacanya.

Sekarang si kritikus telah almarhum. Dedikasinya toh dikenang selalu. Barangkali, kau merasa draf novelku adalah penghinaan bagi nama baiknya. Sesungguhnya, kini aku paham, kau terlalu picik untuk mengatakan lantaran kau akrab bergaul dengan si kritikus. Aku bisa memakluminya. Kau mau nama baikmu tidak ikutan tercoreng. Namun, jika kau yang penuh ragu menuduh aku tidak merasa dikejar persoalan sewaktu menulis, sebaliknya, aku jemput persoalan itu secara langsung. Kenal atau tidak kenal kritikus mana pun, karya sastra harus mandiri. Artinya, tudingan novelku dangkal hanya bias yang tidak perlu.

Demikianlah Budi Darma memperdayaimu karena plin-plan tidak bisa menolongmu. Kau mudah terbuai berkat esainya seolah kau memiliki perhatian yang tulus terhadap sastra. Nirdwat, kau tidak suka pandangan orang banyak, tapi caramu memperlakukan karyaku seperti kebanyakan orang di sastra.

Kau berlagak mengkritisi krikitus sastra yang tidak punya konsep, tapi kau sendiri terjebak ke dalam klaim yang mengaburkan. Pikiranmu terlampau ideal untuk meninjau sastra. Alih-alih, kau sukar menghindar dari pikiran yang sempit. Kau tipikal orang yang rentan bosan, alih-alih kau berstandar kepuasan ala konsensual, kau terjebak pada seleramu yang tidak seberapa. Masalahnya, kau cari aman dan sembunyi mengunci dirimu sebagai pembaca—yang dalam kesempatan sama kau sedang dikecoh normalitas sastra seperti status quo, kanonisasi, dan hal-hal yang politically correct.

Nirdawat, aku tidak sedang marah kepadamu. Sudah kelewat uzur jika kita adu jotos. Lagi pula untuk apa berdebat soal kritik sastra dalam suratku ini. Budi Darma sekadar menceklis arogansimu bahwa menjadi pengarang lebih sulit ketimbang menjadi kritikus sastra. Kau yang melodramatis berkeyakinan kritikus adalah mereka yang gagal menjadi pengarang. Bagiku pribadi, baik kau maupun Budi Darma tidak ada beda: terlalu menganggap sastra penting di atas segala-galanya. Glorifikasi itu yang kusinggung sebagai nama baik.

Nirdawat, tidak ada yang benar-benar terjadi dengan kritik sastra, selain politik kritik sastra yang menjemukan, diulang-ulang dan tendensius. Aku tidak menyesal menarik diri jauh-jauh hari dari sastra. Lantaran kau percaya nama baik, sudah betul kau fokus membina Yayasan Sastra dan cuek terhadap gosip miring yang mengatakan dirimu sebatas mengangkat pengarang dan kritikus cetakan yang sependapat denganmu. Abaikan saja. Kau tahu, aku tersenyum setiap mendapati namamu muncul dari polemik ke polemik. Sejarah sastra memberimu privilese luar biasa. Berterima kasihlah atas keplin-plananmu.

Sepulang dari TIM, suatu malam pada 1984, aku benamkan karier sastraku seumur hidup. Selamat tinggal. Tidak ada pamrih yang layak kudambakan darinya. Novelku tidak pernah terbit. Tidak apa-apa, traumaku pulih dengan sendirinya. Surat ini kutulis dalam rangka memaafkanmu dan Budi Darma, salah satu orang paling berjasa di hidupmu; ia yang mencacimu sekaligus membuatmu terkenal. Tidak usah kau balas surat ini.

Salam hangat,
Martinus Hangewa

Rawamangun, 22 September 2021

Postscript:
Pembaca sastra merangkap informan yang menemuiku bernama Asep, anak dokter langgananmu dulu; kini ia bertunangan dengan Olivia, putri sulungku. Mudah-mudahan Asep pembaca sastra yang tegas. Nanti aku kirim undangan pernikahan mereka, dan jika kau bersedia kita dapat bertemu.

Share the Post: