Perlukah Lagi Realisme?: Renungan atas Pementasan “Senja dengan Dua Kelelawar”

Perlukah Lagi Realisme?: Renungan atas Pementasan “Senja dengan Dua Kelelawar”

Para pemikir pascamodern bilang bahwa zaman kini adalah zaman yang sangat percaya pada simulakra dalam banyak rupa, entah itu bisnis hoax, pergaulan medsos, iklan dengan simbol agama, identitas halu, suntik muka, pencitraan sana-sini, kampanye hitam, dan segala janji masa depan cerah. Di hadapan simulakra, realitas dipertanyakan dan bahkan dianggap sudah lenyap. Yang ada hanyalah realitas virtual. Dalam situasi seperti ini, perlukah lagi kita kembali pada realisme?

Sambil menonton pementasan “Senja dengan Dua Kelelawar” dari Teater Zat pada 24 Januari yang lalu di Aula Latief UNJ, saya diam-diam mengajukan pertanyaan itu dalam hati. Sejak lampu panggung pertama menyala, memang sudah terasa suasana pentas realisnya. Konsep sayap (wing) dalam panggung prosenium yang ada di kiri dan kanan panggung sudah diubah menjadi jalanan gang perumahan yang menerabas area penonton. Dengan tata panggung seperti itu, penonton seperti terkurung di dalam panggung itu sendiri, dikondisikan untuk menjadi bagian dari pentas, bukan di hadapan pentas seperti biasanya. Tata panggung seperti ini bisa disebut sebagai panggung arena yang diperluas. Bahkan, setting utama pentas ini, yaitu teras sebuah rumah, dibangun tanpa papan peninggi (level) sehingga tingkat kedatarannya tidak berbeda dengan posisi penonton yang duduk bersila di lantai. Posisi seperti ini memang dapat berefek menghilangkan batas atau jarak antara pentas dan penonton. Lantas, dengan tata panggung seperti ini, seberapa realis pertunjukannya sendiri?

Sejauh pemahaman saya, naskah “Senja dengan Dua Kelelawar” karya Kirdjomulyo ini pada dasarnya dapat dibandingkan dengan nuansa realisme di film-film Alfred Hitchcock (atau Satoshi Kon—bagi yang lebih akrab dengan animasi Jepang). Kita tahu, bahwa karya Hitchcock memengaruhi pembentukan genre thriller dalam dunia sinema. Berbeda dengan film horor yang menghadirkan ketakutan/kengerian sebagai sesuatu yang ditimbulkan oleh sosok di luar diri manusia, yaitu monster atau hantu, film thriller justru mencoba menampilkan ketakutan/kengerian sebagai sesuatu yang disebabkan atau bersumber dari dalam jiwa manusia itu sendiri. Dalam pandangan realisme thriller, hasrat-hasrat manusialah yang patut ditakuti. Sosok hantu, monster, iblis, dan semacamnya dipandang hanya sebagai proyeksi dari ketakutan/kengerian manusia terhadap hasrat terlarangnya sendiri yang terus mengincar di dalam jiwanya.

Maka, tantangan terberat untuk memainkan naskah dalam genre semacam ini adalah seberapa mendalam penggalian tafsir dilakukan atas hasrat-hasrat terlarang itu, seberapa jeli hasrat-hasrat itu coba disembunyikan sekaligus dibuka melalui teknik akting, dan seberapa tepat suasana mencekam/kengerian dimunculkan dan ditunda silih berganti untuk kemudian menghasilkan suspense yang mengena. Karena itu, tidak heran jika judul naskah ini saja sudah menyiratkan suasana mencekam itu. Namun, seberapa berhasil Teater Zat menafsir dan menghidupkan naskah ini di panggung arena yang dibangunnya?

Untuk menjawabnya, saya akan mulai dengan salah satu prinsip dalam genre thriller: “Kejahatan yang dilakukan oleh orang biasa akan terasa lebih mencekam dibanding kejahatan yang memang dilakukan oleh seorang penjahat.” Itulah mengapa film Parasite dari Korea, begitu mencekam dan mengerikan. Itu sekadar contoh. Prinsip yang sama juga berlaku untuk naskah Kirdjomulyo ini. Bagaimana mungkin Ismiyati, seorang gadis baik-baik yang sederhana, tega melakukan pembunuhan berencana? Justru di situlah letak thriller-nya.

Dalam hal ini, Salmaa Athira (@salmaaathr) yang memainkan tokoh Ismiyati sudah mampu memperlihatkan sosok gadis yang sederhana itu. Tetapi, karena ini adalah drama thriller, pembawaan baik-baik dan sederhana itu harus ditafsirkan sebagai strategi untuk menyembunyikan hasrat terlarangnya, yaitu ingin merebut lelaki yang dicintainya yang kini sudah menjadi suami orang lain. Penyembunyian hasrat ini seharusnya tergambar dalam akting gelisah yang tidak jelas, kecemburuan yang tertahan, kemarahan yang tiba-tiba, ketidakberdayaan yang melumpuhkan, dan perasaan putus asa yang menyesakkan. Salmaa tidak selalu berhasil membawakan semua beban psikis ini melalui tubuhnya. Namun, sebagai pemain pemula di Teater Zat, Salmaa sudah memperlihatkan kemampuan akting yang potensial. Dengan latihan yang lebih gigih, saya kira beban psikis Ismiyati akan mampu ditanggung oleh tubuh aktingnya pada suatu saat.

Sebenarnya antisipasi tentang rencana pembunuhan itu sudah diungkapkan dalam dialog antara Ismiyati dan ibunya pada adegan awal. Dalam genre thriller, antisipasi awal semacam ini biasa digunakan untuk memberi petunjuk (clue) tentang motif psikologis tokoh. Namun, apakah pembunuhan itu memang nantinya akan dia lakukan atau tidak, di situlah letak suspense-nya. Pada momen adegan antisipasi awal itu, kita diberitahu oleh dialog-dialognya bahwa rasa kesepian dalam kesendirian adalah motif psikologis Ismiyati. Bahkan, kesepian itu juga dialami oleh ibunya yang sudah lama menjanda. Perlu dicatat bahwa tokoh ibu Ismiyati ini sebenarnya hasil adaptasi dari sutradara; dalam naskah aslinya tokohnya adalah ayah Ismiyati. Namun, terlepas dari perubahan tokoh ini, motif psikologis dasarnya tetap sama, yaitu kesepian. Bahkan, kehadiran tokoh Tomo yang memecah suasana kesepian dengan gayanya yang humoris tetap tidak bisa menghalau kesepian itu. Dengan kata lain, humorisnya Tomo hanyalah teknik dramatik untuk memberikan efek ironi yang berfungsi mempertajam suasana kesepian.

Dominannya suasana kesepian itulah yang seharusnya terasa dan tergambar dalam adegan awal itu. Pada titik ini, tempo permainan yang dibawakan oleh Ismiyati dan ibunya (yang diperankan oleh Sita Meika/@sitamei) masih terasa terlalu cepat. Kombinasi akting dari kedua pemerannya belum sampai untuk menghidupkan suasana kesepian yang sebenarnya bisa diwujudkan dalam tempo yang mengayun berlarat-larat yang dipatahkan sesekali dengan letupan-letupan kecil dari emosi yang tertekan. Baik Sita maupun Salmaa, sama-sama terlalu bertumpu pada teknik akting melepas, bukannya teknik menahan dalam diam. Itu menyebabkan tempo permainan mereka terlalu cepat untuk ukuran adegan awal thriller yang berfungsi untuk memberi antisipasi.

Suasana misterius yang khas thriller baru terasa kuat pada adegan kemunculan tokoh Sulaiman yang dimainkan oleh Septio Erostian/@erostians. Dengan pengalaman akting yang lebih matang, Septio mampu mengikat perhatian kita pada adanya kemungkinan motif psikologis yang lain dari pembunuhan dalam drama ini. Septio memainkan tokoh Sulaiman dengan sangat relaks, tanpa beban panggung. Gerak-gerik tubuhnya terjaga dan penuh perhitungan. Dengan lebih banyak mengandalkan kekuatan akting tatapan, dia mampu mendorong jalannya pementasan ke tingkat yang lebih bisa dinikmati.

Bagaimanapun, di tengah segala hiruk-pikuk simulakra abad digital ini, tampaknya masih cukup melegakan bisa menyaksikan teater realis lagi, menyaksikan betapa tubuh pemain berusaha meraih otentisitas dan kewajaran manusiawinya, menyaksikan betapa jiwa manusia coba diselami sampai ke palungnya yang paling gelap yang seringkali tak tersadari. Memang, dari segi ini, kualitas naskah Kirdjomulyo ini masih belum mampu mengimbangi kekuatan naskah thriller realis Malam Jahanam-nya Motinggo Busye dan Sumur Tanpa Dasar-nya Arifin C. Noer. Namun, pementasan Teater Zat kali ini—di ultahnya yang ke-25–memantik renungan baru: bagaimana mendekati lagi teater realis di tengah kondisi zaman yang anti-realis ini?

Irsyad Ridho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*