Lagu-laguan Akustik #1 : #JonoTerbakarWorldTour

Lagu-laguan Akustik #1 : #JonoTerbakarWorldTour

Minggu, 6 Oktober 2019 menjadi malam yang padat dan penuh tawa di Atelir Ceremai. Pasalnya, pada malam yang tanpa hawa dingin itu dewan kurator musik Atelir Ceremai yang dikepalai Gusti Irawan Wibowo, seseorang cowok ucul dan manis mengadakan lagu-laguan akustik. Jono Terbakar menjadi penampil utama dalam kegiatan ini. Salah satu musisi terbaik dan bersahaja dari Yogyakarta ini memang sedang melakukan tur setingkat dunia yang diberi nama #JonoTerbakarWorldTour.

Read More

BAKAR #2 Panji Koming Nyingkap Denmas: Representatif Budaya Jawa dalam Perilaku Elite Politik semasa Pemilu 2014

Bahas Karya edisi kedua yang diusung oleh tim Dewan Kurator Sastra yang dikepalai oleh M. Putera Sukindar, lelaki berkulit putih dengan wajah mengalahkan aktor utama Dilan dan Bumi Manusia yang menjadi idaman para hawa milenial itu membahas buku Panji Koming Nyingkap Denmas:Representatif Budaya Jawa dalam Perilaku Elite Politik semasa Pemilu 2014 yang ditulis oleh Bagus Prasetiyo.

Menemani sebagai moderator, Sentyaki Satya Putra atau yang sudah kebiasaan dipanggil Asenk dengan gelar komikusnya, membawa obrolan menjadi santai dan panjang, Minggu malam, 29 September 2019 terasa sedap. Sedap bagi para jomlo karena pakansinya tidak diisi dengan galau-galauan, sedap bagi diri yang memiliki alternatif agenda lain karena pertemuan dengan gadis tak kunjung jadi. Membahas tentang komik.

Read More

BARTER #1: Persona-Aldiansyah Azura

Ateliran mengaduk kopi paste yang baru bersandar di pelabuhan meja. Di pelabuhan meja lainnya, tahu kepo dan liciti bersanding menghadap mulut-mulut ateliran. Kebetulan di luar sedang sepi, hanya satu meja yang terisi. Untungnya di ruang dalam, satu meja yang sunyi. Ada yang mengambil buku Jono Terbakar di rak buku Atelir Ceremai, ada yang asik mengobrol dengan gawainya. Memang malam minggu ini cukup sepi yang bertandang, alasannya barangkali, kantong sedang kering.     

Read More

Pascadiskusi: Mengurai Film Parasite (2019) oleh Ulasinema

Ulasinema.com dan komunitas seni Atelir Ceremai menghelat diskusi film bertajuk Parasite dan Kesenjangan Sosial pada Jumat sore (20/9) di Rawamangun, Jakarta Timur. Selama diskusi, Parasite memberikan peluang penafsiran dan sudut pandang yang beragam.

Film Parasite, berjudul asli Gisaengchung (2019), merupakan film garapan Bong Joon-hoo. Sineas asal korea ini secara apik menampakkan kesenjangan sosial yang ekstrem di Korea, yang juga termasuk isu di beberapa negara. Bong tidak menunjukkannya dengan sentimen habis-habisan orang kalangan bawah terhadap orang kalangan atas, atau sebaliknya. Ia membungkusnya dengan tragedi-komedi yang divisualkan dengan “pertemuan” keluarga kaya dan keluarga miskin. Si miskin secara “pintar” menipu si kaya.

Read More

RAGAM #3: Memodifikasi Gedung DPR

            Nampaknya seluruh wilayah di Indonesia menolak keras dengan revisi RUU yang dinilai kontroversial itu rencananya akan disahkan oleh DPR tersebut. Para mahasiswa seluruh Indonesia mengecam tindakan ini dan melakukan aksi di Senayan. Media sosial penuh dengan foto, video, dan tulisan yang menggambarkan betapa negara ini sedang mengalami sakit yang amat parah serta akal sehat yang kacau. Menghujat adalah gaya tutur yang sudah kepalang ramai berseliweran di media. Kantor DPR menjadi sasaran oleh ribuan mahasiswa dari kampus-kampus yang berada di Jakarta dan sekitar untuk menyampaikan aspirasi mereka. Aspirasi masyarakat yang diwakili oleh para mahasiswa yang turun ke jalan mendapat tindakan yang tidak menyenangkan oleh aparat kepolisian. Orang yang tidak setuju dengan RUU yang terbilang terlalu berlebihan hingga masuk ke ranah privasi itu masing-masing mengambil peran.

Read More

JUANCOK #1: Nonton Bareng dan Diskusi Film Parasite

Kurator Film Atelir Ceremai, Imam, berinisiasi mengadakan program nonton bareng dan diskusi Juancok. Eit, sabar dulu. Nonton bareng dan diskusi ini tidak akan juancok-juancok-an, karena maksud Juancok adalah Jumat Nonton Cinema Ok. Jumat merupakan hari baik untuk melebur dalam satu pembicaraan membahas sesuatu ditemani dengan kopi paste atau isminti. Setiap Jumat, Dewan Kurator Film Atelir Ceremai akan mengadakan nonton bareng dan diskusi tentang film dalam atau luar negeri, panjang atau pendek.

Read More

RAGAM #2: Iwan Simatupang dan Puisinya

Kedua kalinya, tim kurator Rupa yang dikepalai oleh Nabila Yusufa alias Pacil kembali melakukan program rutin dewan kurator Rupa, Rabu Gambar. Dengan tema yang berbeda kali ini, sehabis Magrib Pacil kembali menodong para ateliran untuk menggambar lewat media yang masih sama, HVS putih polos.

Dengan gaya rambutnya yang khas, sedikit dengan penjelasan dan arahan, Pacil berhasil mengajak orang-orang menggambar Iwan Simatung. Maksudnya, menggambar puisi Iwan Simatupang yang berjudul Ballade Kucing dan Otolet.

Read More

Sore-sore Ngobrolin Cergam Medan

Sore Rabu. Terik tak lagi sepanas seperti sebelumnya. Satu per satu pengunjung datang. kursi sudah disusun berbaris-baris menghadap dua kursi. Memang dua kursi itu diisi oleh pemantik dan pembicara beberapa menit sudah. Sambil menunggu kursi yang lain terisi, pemantik dan pembicara terus ngobrol berdua. Sampai-sampai orang yang baru datang mengira bahwa diskusi sudah mulai sedari tadi.

Memang, sore Rabu, 18 September 2019, dewan kurator sastra Atelir Ceremai bikin acara lagi yang kali ini membicarakan Cergam Medan. Irsyad Ridho, dosen kesayangan para mahasiswa dan katanya keren itu, dengan suara beratnya menjadi pemantik. Lalu, lawan bicaranya kali ini pecinta dan kolektor cergam. Bisik-bisik tetangga, Henry Ismono juga yang menuliskan biografi mendiang Hasmi, kreator Gundala Putera Petir yang saat ini sedang diomongin banyak orang.

Read More

Kita Diputar-putar tentang Mana yang Nyata dan yang Tidak

Hasil pembacaan novel Faisal Oddang Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa oleh Khurin Dini, dini6670@gmail.com, (Mahasiswa Sastra Indonesia UNJ 2016)

“Kamu tak perlu memberinya identitas,” Allisa memotong Clevie, “biarkan itu jadi olok-olok pada kehidupan dan juga kenyataan.”

-dikutip dari Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa karangan Faisal Oddang.

Makruh memang hukumnya, jika menilai sebuah buku hanya dari tipis-tebalnya jumlah halaman. Seperti juga novelet karya Oddang yang baru saja saya baca ini. Oddang menulis novelet yang berbeda dari tulisan sebelumnya. Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa, ditulis lebih pendek dari sebuah novel, dan lebih pajang dari sebuah cerpen. Biasanya tulisan dengan panjang 116 halaman itu dapat dibaca dengan sekali duduk, tapi novelet ini nyatanya menyita waktu saya selama berhari-hari untuk sampai pada kata “mengerti”.

Read More

BAKAR #1 : Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa

Bakar merupakan singkatan dari bahas karya, yaitu program dari dewan kurator sastra yang dikepalai oleh M. Putera Sukindar. Ngobrol santai di Atelir Ceremai pada Selasa malam 17 September 2019 membahas Novelet Faisal Oddang Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa dalam suasana yang tidak serius-serius amat, tegang-tegang amat, atau sampai tonjok-tonjokkan.

Wanita tercantik satu-satunya di antara semua laki-laki yang hadir, Khurin Dini sebagai pemantik diskusi mengungkapkan Oddang menulis dengan penuh humor yang gelap.

“Beberapa kali saya sempat dibuat menyeringai. Seperti saat tokoh yang sedang menulis novel kemudian merancap dengan tulisan yang ia buat sendiri. Lelucon yang sepertinya ‘deket ngga deket’”

Read More