Lokalis X Atelir Ceremai: Ngomong-ngomong Episode 2

Lokalis X Atelir Ceremai: Ngomong-ngomong Episode 2

Sejak senja menjelang azan Magrib, sebuah mobil hitam masuk pagar wilayah parkir, membawa alat-alat sound system lewat pintu belakang setelah pintu belakang mobil dibuka. Barang-barang dibiarkan tergeletak di dalam ruang Atelir Ceremai. Karena lelah dan macet, rokok dan kopi tubruk buatan ladenis dapat menenangkan hati sekejap.

Selepas Magrib, orang yang mengepalai bidang sound system mulai mengutak-atik. Tak perlu waktu lama, pelantang sudah berbunyi. Dengan dua speaker, satu di belakang pembicara dan satu lagi berada di ruang luar. Maksudnya barangkali, agar semua yang ada di Atelir atau bahkan yang sedang melewati tempat itu dapat mendengarkannya. Di pintu masuk, ada sebaris kabel yang sudah dilem agar tidak terjadi kecelakaan ketika lalu lalang atau saat mengantar minuman. Ditambah lagi, tidak hanya dua speaker, ada juga layar seperti televisi dan posisinya berada di belakang pembicara. Teman-teman dari Lokalis yang menyiapkan segalanya menjadi lebih meriah dan bergema.

Parkiran di luar semakin ramai sampai melebihi batas yang telah dibuat. Bangku diisi oleh ateliran secara bergantian, ada yang bertahan sampai habis acara walau sambil main-main gawai atau menguap sekenanya.  

Acara yang ditempatkan pada Kamis malam, 10 Oktober 2019 itu, Lokalis berkolektif dengan Atelir Ceremai mengadakan agenda yang diberi nama Ngomong-ngomong episode kedua. Tiga pembicara keren dan kece, yaitu Hamzah Muhammad, Subnoise, Suri. Mereka duduk sesuai dengan urutan yang ada di poster, teratur memang anak-anak seni itu. Hamzah Muhammad menceritakan bagaimana jejak langkahnya sampai menjadi manajer Kabar Burung dan berhasil secara bersama membangun Kabar Burung menjadi band di Rawamangun yang melejit tinggi. Subnoise, sebuah kolektif musik juga menceritakan ruang yang mereka bentuk menjadi tempat yang asik untuk dinikmati dengan suguhan atau inspirasi ide-ide kreatifnya. Suri, satu-satunya wanita tercantik di antara dua pembicara lain yang berjenis kelamin laki-laki, menceritakan pengalamannya sejak kuliah yang menggeluti dunia seni rupa sampai ia berhasil di titik yang sedang ia jalani, begitu juga proses ia menemukan ruang dan tempatnya untuk berkarya lebih giat lagi. Acara ini dipandu oleh Marshall Libert, yang tidak asing lagi di bumi Bekasi dan ruang kreatif seperti Kedubes Bekasi. Marshall juga menjadi salah satu personil keren, Sir Lommar Jhon.

baca juga: https://atelirceremai1.wordpress.com/2019/09/17/kita-diputar-putar-tentang-mana-yang-nyata-dan-yang-tidak/

Satu hal penting yang dapat ditarik kesamaan antara ketiga pembicara, kebutuhan untuk memiliki teman yang luas itu sangat penting. Berbaur dengan orang-orang di sekitar, berbagi cerita, dan menjangkau relasi yang luas.  Orientasi yang mereka bicarakan bukan untuk kepentingan pribadi individu, tetapi kebutuhan akan memiliki banyak teman itu adalah hal humanisme yang tidak bisa dielakkan. Dengan mudah membuka diri ke orang dan bersikap apa adanya, tentu tidak perlu disangsikan lagi bagaimana respon baliknya.

Tentu juga akan terasa hambar jika malam itu ngomong-ngomong saja, sebelum semua set dan perlengkapan acara diatur ulang, sebelum acara selesai, sebelum Ateliran membayar total pesanannya, ada dua band yang sudah mempersiapkan diri. Benoa yang beranggotakan tiga orang ditambah satu pemain tambahan memainkan beberapa lagu. Satu lagu berbahasa Indonesia dan tiga lagu berbahasa Inggris. Sungguh siksa bagi mereka yang pura-pura menikmati lagu, padahal satu kata pun tak ada yang bisa mereka terjemahkan ke bahasa Indonesia. Nada-nada yang terbentuk tidak membosankan. Ditambah lagi dengan penambilan dari Balada Garda Gajah. Penampilan mereka menarik banyak ateliran untuk masuk menyaksikan. Melihat dari luar kaca tidak puas sepertinya. Angga, vokalisnya begitu piawai dan handal memainkan alat musik sitar. Alat musik ini dipadukan dengan kehadiran gitar akustik, bass, dan alat pukul khas Balada Garda Gajah. Hanya dengan sebaris dua baris lirik, hampir dipenuhi instrumen, sungguh komposisi atau paduan yang pas sehingga membuat ateliran berdecak kagum.

Usai tepuk tangan yang gema, Marshall menutup acara. sebagian tak sadar kalau sebentar lagi toko akan segera tutup. Sebagian sadar toko sudah tutup tapi karena Atelir Ceremai terlalu nyaman untuk mereka, cuek sedikit tidak apa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*