Kita Diputar-putar tentang Mana yang Nyata dan yang Tidak

Kita Diputar-putar tentang Mana yang Nyata dan yang Tidak

Hasil pembacaan novel Faisal Oddang Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa oleh Khurin Dini, dini6670@gmail.com, (Mahasiswa Sastra Indonesia UNJ 2016)

“Kamu tak perlu memberinya identitas,” Allisa memotong Clevie, “biarkan itu jadi olok-olok pada kehidupan dan juga kenyataan.”

-dikutip dari Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa karangan Faisal Oddang.

Makruh memang hukumnya, jika menilai sebuah buku hanya dari tipis-tebalnya jumlah halaman. Seperti juga novelet karya Oddang yang baru saja saya baca ini. Oddang menulis novelet yang berbeda dari tulisan sebelumnya. Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa, ditulis lebih pendek dari sebuah novel, dan lebih pajang dari sebuah cerpen. Biasanya tulisan dengan panjang 116 halaman itu dapat dibaca dengan sekali duduk, tapi novelet ini nyatanya menyita waktu saya selama berhari-hari untuk sampai pada kata “mengerti”.

Jika melihat dari tulisan Oddang sebelumnya, seperti novel Tiba Sebelum Berangkat dan cerpen Di Tubuh Tara, dalam Rahim Pohon yang sangat kental dengan nuansa magis-kultural, novelet ini mencoba melepaskan diri dari hal tersebut.

Saya tidak mengetahui siapa Raymond Carver sebelum saya membaca buku ini, dan pada akhirnya mencoba mencari biografinya di Google. Buku ini menjadi semacam novel biografi, namun dengan penulisan yang lain. Alih-alih menuliskan ulang memoar Raymond semasa hidupnya, Oddang justru menghidupkan kembali Raymond sebagai seorang tokoh yang “hidup” dan mengalami masalah lain. Meskipun seiring mengalirnya cerita, pembaca dibuat mengalami kembali kejadian-kejadian yang pernah Raymond alami di masa hidupnya dulu, atau tempat-tempat yang pernah dikunjunginya.

Raymond Carver adalah penulis cerpen dan puisi. Kita dapat menemukan kutipan halaman awal tentang wawancara Maryann Carver, yaitu mantan istri Ray di internet. Yang artinya itu terjadi, nyata adanya. Meskipun novelet fiksi, banyak data yang disisipkan sehingga membuat saya sebagai pembaca merasa percaya saja pada pengetahuan singkat yang ia tulis. Namun, ada juga beberapa data yang meragukan benar atau tidaknya. Contoh, di halaman awal ia mengutip Robert Barry sebagai pemenang nobel sastra 2018. “Perasaan gue ga ada tuh nobel sastra tahun 2018. Atau emang gue aja yang kurang update?” terasa meyakinkan, tapi tidak ada.

Oddang menulis dengan penuh humor yang gelap. Beberapa kali saya sempat dibuat menyeringai. Seperti saat tokoh yang sedang menulis novel kemudian merancap dengan tulisan yang ia buat sendiri. Lelucon yang sepertinya “deket ngga deket”.

Selanjutnya, foto-foto yang ada di dalam novel. Seolah sebagai penguat bahwa semua yang dia katakan bisa dibuktikan. Mungkin Oddang beranjak dari sebuah istilah yang sangat populer, No Pict Hoax, ketika memutuskan untuk menggunakan formula ini. Maka, diberikanlah bukti-bukti itu. Seolah semua benar adanya.

Oddang juga seperti sedang menyindir kebiasaan tidak kritis kita terhadap sebuah informasi. Seperti tokoh Kamu dan Ray yang mengutip dan mendapat informasi dengan mudahnya dari sumber yang tidak mendalam dan tidak diketahui asal-usulnya. Juga ketika Ray melakukan pembohongan publik. Dan pertanyaan tentang keberadaan tokoh Kamu dan Clevie yang tak jelas siapa nyata, siapa rekaan.

*Catatan: gagasan-gagasan dalam catatan ini merupakan kumpulan dari berbagai gagasan, salah satunya dari sebuah review pembaca di Instagram dan laman penakota dan sahabat saya di Teater ESKA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*