JUANCOK #1: Nonton Bareng dan Diskusi Film Parasite

JUANCOK #1: Nonton Bareng dan Diskusi Film Parasite

Kurator Film Atelir Ceremai, Imam, berinisiasi mengadakan program nonton bareng dan diskusi Juancok. Eit, sabar dulu. Nonton bareng dan diskusi ini tidak akan juancok-juancok-an, karena maksud Juancok adalah Jumat Nonton Cinema Ok. Jumat merupakan hari baik untuk melebur dalam satu pembicaraan membahas sesuatu ditemani dengan kopi paste atau isminti. Setiap Jumat, Dewan Kurator Film Atelir Ceremai akan mengadakan nonton bareng dan diskusi tentang film dalam atau luar negeri, panjang atau pendek.

Berawal dari pertemuan yang tak dikira-kira dengan orang-orang penikmat film di Atelir Ceremai. Pertemuan itu terjadi antara kurator film Atelir Ceremai dengan kawan-kawan dari Ulasinema, sekelompok orang yang senang mengulas-ulas sinema dengan perspektif variatif dan unik. Obrolan beralih ke topik yang lebih serius untuk membuat acara nonton bareng sekaligus diskusi, karena kalau nonton, apalagi youtube-an ditemani segelas kopi tanpa diskusi, bakalan mati otak untuk berpikir. Lebih nikmat memang jika dilakukan bersama-sama dengan orang lain yang memiliki sudut pandang yang berbeda.

Parasite menjadi film pertama yang menurut kurator film Atelir Ceremai dan Ulasinema asik untuk dipertontonkan dan diobrolkan. Film asal Korea tersebut sempat menjadi perbincangan hangat di publik saat masuk dalam layar bioskop Indonesia. Apakah banyak orang yang mengira Parasite sama seperti cerita romantisme dalam drama Korea yang sedang digilai anak milenial itu? ternyata film ini menyuguhkan isu-isu yang lebih serius ketimbang drakor. Parasite membicarakan kesenjangan sosial yang terjadi di Korea Selatan. Kisah tiga keluarga yang kompleks memperlihatkan bagaimana keluarga yang perekonomian rendah tidak dapat naik kelas dan sifat ketidakpedulian dari keluarga yang ekonomi tinggi kepada yang di bawah menjadi alur utama cerita yang lalu lalang di mata penonton. Menurut Imam, kurator film Atelir Ceremai yang saik itu, keadaan kesenjangan sosial negara Korea yang ditunjukkan dalam Parasite seakan-akan sama dengan yang terjadi di Indonesia.

Adegan-adegan yang bermunculan dalam film yang disutradarai oleh Bong Joon-ho terus menghantui para penonton untuk diungkapkan dalam diskusi. Banyak perspektif yang muncul ketika diskusi. Salah satunya mengenai adegan yang selalu memperlihatkan bahwa orang miskin itu bau saat ketika Jo Yeo-jeong (Istri Mr. Park) sedang menelepon di dalam mobil dan mencium bau yang menyengat hidungnya. Mata istri Mr. Park itu melihat tipis ke wajah Song Kang-ho (Ki-taek) yang saat itu sedang berpura-pura menjadi supir pribadi keluarga Mr. Park. Selepas melirik, istri Mr. Park sontak membuka kaca mobil. Ki-taek dengan wajah keriput yang tidak senang itu perlahan mencium bau tubuhnya sendiri. adegan serupa lainnya terjadi berkali-kali sampai akhir cerita terasa masuk akal kenapa Ki-taek membunuh Mr. Park. Beberapa dari para penonton yang lain menunjukkan bagian dari adegan yang memberikan tanda, seperti keluarga Ki-taek yang selalu ngumpet di bawah meja atau tempat tidur. Sepertinya di Indonesia belum ada film yang digarap serupa film dengan judul Korea Gisaengchung itu.

Hampir sampai di ujung kegiatan, penonton merekomendasikan film-film yang asik untuk dibahas pada program Juancok #2 yang akan datang. Semua perspektif sudah dituangkan dalam ngobrol bareng ini, Imam menutup program nonton bareng dan diskusi perdana dengan sumringah sekali, terlihat lebih tampan. Ia mengatakan kalau akan ada kolaborasi lainnya bareng Ulasinema dan tentunya dengan film menarik lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*