Gundala di Tengah Kota: Antara Urbanisme dan Heroisme

Gundala di Tengah Kota: Antara Urbanisme dan Heroisme

Hari ini Atelir Ceremai buka lebih awal dari biasanya, pukul 15.00 wib. Lebih cepat satu jam dari biasanya. Sejak siang, kepala toko Atelir Ceremai sudah mempersiapkan tata panggung untuk acara hari itu. Bangku penonton dipersiapkan lebih banyak dari biasanya, prediksi kuat mengatakan akan banyak ateliran yang datang. Pengeras suara sudah tegak letaknya di luar ruangan, dua pelantang pun sudah stand by kalau-kalau akan digunakan. Pengeras suara ini dibutuhkan karena mengingat kalau masa di dalam sudah penuh dan antisipasi agar ateliran di luar yang tidak bisa masuk atau sambil merokok tetap dapat mendengarkan obrolan seru di dalam.

Terik hari Rabu, 16 Oktober 2019, Jakarta Center for Cultural Studies (JCCS) mengadakan diskusi mereka yang kedua dengan tema Gundala di Tengah Kota: Antara Urbanisme dan Heroisme. Antara tema dan pembicara yang pas membuat acara ini ditangkap ramai oleh para ateliran, contohnya seperti Seno Gumira Ajidarma, Lilawati Kurnia, Lily Tjahjandari, Henry Ismono (Penulis biografi Harya Suraminata). Acara ini pun dimoderatori oleh dosen tampan, Irsyad Ridho. Konon katanya, JCCS.ID (LINK INSTAGRAM) merupakan sekelompok alumni cultural studies UI.

Ateliran yang datang beragam. Para siswi bawaan dari salah satu pembinanya yang menyukai diskusi—tampak dari seragam dan badge yang mereka gunakan, para pencinta komik tentunya, para mahasiswa sastra dan cultural studies, wartawan, penonton film Gundala, dan orang-orang gabut pada hari itu. Mereka yang serius mendengarkan obrolan para pembicara, mencatat setiap perkataan yang dianggap penting. Ada juga yang merekam audio dan meletakkan di meja pembicara, ada yang sibuk sendiri berfoto-foto, dan ada yang tanpa banyak gerak khidmat mendengarkan.

Membahas tentang Gundala bukan hanya perihal kaitannya dengan komik dan film, tetapi juga budaya, sejarah, dan ekonomi di dalamnya. Seno Gumira Ajidarma, Rektor Institut Kesenian Jakarta, mengantar kita kepada obrolan bahwa kebudayaan adlaah yang ada di sekitar kita. perihal keseharian dan sehari-hari kita beraktivitas. Gundala adalah contoh bahwa sebuah produk seni suatu zaman bisa dibaca dan didudukkan pada konteks zaman yang berbeda.

Pada acara itu, JCCS menggunakan sistim registrasi. Registrasi ini dikenakan biaya dua puluh ribu. Nantinya, peserta yang mendaftar akan mendapatkan kupon kecil untuk mendapatkan sertifikat serta satu minuman gratis. Jadi, peserta bebas memilih minuman setelah memberikan kupon tersebut. juga, JCCS memberikan camilan enak seperti pastel dan kue lainnya secara gratis untuk para ateliran. Barangkali, karena para ateliran tampak malu padahal perut mereka lapar, jadi camilan itu harus menjemput mulut-mulut ateliran untuk segera ditelan, alhasil dalam sekali putar satu tadahan piring langsung habis.

Dua buah meja berisi buku-buku yang berbeda. Satu meja berisi buku biografi Hasmi yang ditulis oleh Henry Ismono dan kota urban Jakarta dalam komik yang ditulis oleh Lilawati Kurnia. Satu meja lagi dikhususkan komik-komik jadul. Selepas acara, meja-meja ini diserbu oleh para ateliran. Tidak lupa seluruh yang hadir foto bersama, di kesempatan ini Seno Gumira Ajidarma menyempatkan promosi buku terbarunya, Nagabumi 3.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*