Category Archive : Teater

Perlukah Lagi Realisme?: Renungan atas Pementasan “Senja dengan Dua Kelelawar”

Para pemikir pascamodern bilang bahwa zaman kini adalah zaman yang sangat percaya pada simulakra dalam banyak rupa, entah itu bisnis hoax, pergaulan medsos, iklan dengan simbol agama, identitas halu, suntik muka, pencitraan sana-sini, kampanye hitam, dan segala janji masa depan cerah. Di hadapan simulakra, realitas dipertanyakan dan bahkan dianggap sudah lenyap. Yang ada hanyalah realitas virtual. Dalam situasi seperti ini, perlukah lagi kita kembali pada realisme?

Sambil menonton pementasan “Senja dengan Dua Kelelawar” dari Teater Zat pada 24 Januari yang lalu di Aula Latief UNJ, saya diam-diam mengajukan pertanyaan itu dalam hati. Sejak lampu panggung pertama menyala, memang sudah terasa suasana pentas realisnya. Konsep sayap (wing) dalam panggung prosenium yang ada di kiri dan kanan panggung sudah diubah menjadi jalanan gang perumahan yang menerabas area penonton. Dengan tata panggung seperti itu, penonton seperti terkurung di dalam panggung itu sendiri, dikondisikan untuk menjadi bagian dari pentas, bukan di hadapan pentas seperti biasanya. Tata panggung seperti ini bisa disebut sebagai panggung arena yang diperluas. Bahkan, setting utama pentas ini, yaitu teras sebuah rumah, dibangun tanpa papan peninggi (level) sehingga tingkat kedatarannya tidak berbeda dengan posisi penonton yang duduk bersila di lantai. Posisi seperti ini memang dapat berefek menghilangkan batas atau jarak antara pentas dan penonton. Lantas, dengan tata panggung seperti ini, seberapa realis pertunjukannya sendiri?

Read More

Perbincangan tentang Obyek yang Bersuara: Ulasan atas Tiga Monolog

Monolog sedari awal sudah menawarkan paradoks karena bagaimanapun monolog itu sendiri merupakan dialog. Kita tahu bahwa ketika seseorang berbicara, dia pasti berbicara kepada orang lain. Berbicara sudah terlanjur menjadi tindakan manusia yang tercipta dalam kebersamaan, yang mempersyaratkan kehadiran orang lain, sebuah tindakan di dalam dan melalui komunitas atau masyarakat. Karena itu, tidak mungkin kita memahami monolog secara harfiah sebagai “berbicara sendiri”, yaitu berbicara tanpa kehadiran orang lain, tanpa membayangkan orang lain. Ringkasnya, tidak mungkin ada purifikasi atau pemurnian suara sendiri. Suara seseorang selalu berada dalam lingkungan pertemuan dengan suara-suara pihak lain. Dengan kata lain, pada dasarnya tidak ada monolog dalam pengertian murni dan harfiah. Karena itu, menurut hemat saya, kita perlu meletakkan pengertian monolog sebagai sebuah teknik semata di dalam dialog, sebuah modus percakapan, cara khusus untuk mengajak berbincang. Dan, teknik monolog itu muncul justru ketika dialog yang konvensional sudah penuh dengan pembungkaman atas suara yang lain. Dalam pengertian inilah saya hendak membahas tiga monolog yang dipentaskan di Atelir Ceremai pada tanggal 20 Desember 2019 yang lalu.

Read More

BARTER #2 : Diskusi Teater Anak

Sebelum para ateliran datang ke Atelir Ceremai, semua sudah tersedia di bar dan bisa segera disajikan. Seperti jam buka yang sudah para ateliran ketahui, satu jam setelahnya, para ateliran datang satu orang, dua orang, bahkan tiga orang. Sesekali beberapa para orang terlihat gerak mereka mengarah ke pagar hitam Atelir Ceremai, sampai di depan nyatanya mereka berbalik badan ke arah jalan menunggu angkot biru yang sangat hati-hati di jalan itu berhenti tepat di dekat mereka. Durasi tunggu yang memakan waktu beberapa menit, daripada gabut, hitam bola mata itu mengarah ke tulisan Atelir Ceremai yang artsy atau menilik di balik dinding kaca barisan buku dan kopi-kopian yang mengerenyitkan dahi. Jalan Rawamangun Muka kali ini memang berisik, seperti ambulan lalu lalang tiga kali dengan sirine dan pawainya membawa jenazah untuk disemayamkan di taman bahagia Rawamangun.

Read More

BARTER #1: Persona-Aldiansyah Azura

Ateliran mengaduk kopi paste yang baru bersandar di pelabuhan meja. Di pelabuhan meja lainnya, tahu kepo dan liciti bersanding menghadap mulut-mulut ateliran. Kebetulan di luar sedang sepi, hanya satu meja yang terisi. Untungnya di ruang dalam, satu meja yang sunyi. Ada yang mengambil buku Jono Terbakar di rak buku Atelir Ceremai, ada yang asik mengobrol dengan gawainya. Memang malam minggu ini cukup sepi yang bertandang, alasannya barangkali, kantong sedang kering.     

Read More