Category Archives: Kolektif

Perasaan tidak nyaman dari EP Deem, “The Vex”

Kami tidak bermaksud menggiring opini publik ke arah kesedihan, namun EP ini lebih dianggap terinspirasi ke perasaan tersebut.
Berangkat dari pengalaman personal masing-masing personil, enam buah lagu dari “The Vex” adalah komposisi dari perasaan rindu yang mendendam, keputusan yang tidak menyenangkan, pembelaan yang dikhianati, harapan yang terabaikan, serta kegamangan yang tak berujung.

Hal-hal tersebut menjadi alasan untuk kami berempat menghadirkan suasana ungu, hitam dan emas sebagai sebuah lingkaran besar yang membatasi konotasi dari EP ini. Warna ungu yang kuat dengan candu, warna hitam yang penuh resiko, serta warna emas yang berharap dan berkilau.

The Vex telah diperdengarkan saat mini showcase yang bertempat di Atelir Ceremai pada akhir minggu bulan Mei lalu, lebih lengkap nya bisa dengarkan lewat digital platfrom dengan pantauan terus di instragram @deem_urthought.

Perbincangan tentang Obyek yang Bersuara: Ulasan atas Tiga Monolog

Monolog sedari awal sudah menawarkan paradoks karena bagaimanapun monolog itu sendiri merupakan dialog. Kita tahu bahwa ketika seseorang berbicara, dia pasti berbicara kepada orang lain. Berbicara sudah terlanjur menjadi tindakan manusia yang tercipta dalam kebersamaan, yang mempersyaratkan kehadiran orang lain, sebuah tindakan di dalam dan melalui komunitas atau masyarakat. Karena itu, tidak mungkin kita memahami monolog secara harfiah sebagai “berbicara sendiri”, yaitu berbicara tanpa kehadiran orang lain, tanpa membayangkan orang lain. Ringkasnya, tidak mungkin ada purifikasi atau pemurnian suara sendiri. Suara seseorang selalu berada dalam lingkungan pertemuan dengan suara-suara pihak lain. Dengan kata lain, pada dasarnya tidak ada monolog dalam pengertian murni dan harfiah. Karena itu, menurut hemat saya, kita perlu meletakkan pengertian monolog sebagai sebuah teknik semata di dalam dialog, sebuah modus percakapan, cara khusus untuk mengajak berbincang. Dan, teknik monolog itu muncul justru ketika dialog yang konvensional sudah penuh dengan pembungkaman atas suara yang lain. Dalam pengertian inilah saya hendak membahas tiga monolog yang dipentaskan di Atelir Ceremai pada tanggal 20 Desember 2019 yang lalu.

Continue reading Perbincangan tentang Obyek yang Bersuara: Ulasan atas Tiga Monolog

BAKAR #6: Diskusi Buku dan Musik Puisi Bersama Theoresia Rumthe dan Weslly Johannes

Atelir Ceremai menyambut baik kedatangan di Jakarta dan hajat Theoresia Rumthe dan Weslly Johannes yang ingin berbagi lewat karya mereka yang terbaru. Lewat kurator Sastra Atelir Ceremai, acara ini menjadi program BAKAR #6. Kolaborasi ini sangat disambut baik oleh kedua penulis tersebut yang sebelumnya menulis buku secara bersama-sama. Diskusi santai mengenai buku baru mereka yang berjudul Selamat Datang, Bulan yang ditulis oleh Theoresia Rumthe dan Bahaya-bahaya yang Indah oleh Weslly Johannes disambut baik oleh para penggemar mereka.

Continue reading BAKAR #6: Diskusi Buku dan Musik Puisi Bersama Theoresia Rumthe dan Weslly Johannes

Diskusi buku Keping-keping Kota Karya Udji Kayang

Malam Minggu memang jeda waktu yang tepat untuk melegakan segala beban di pundak dan kening yang terus-terus mengkerut. Nongkrong dengan segelas teh atau kopi sambil ngobrol-ngobrol menjadi rutinitas yang dicari-cari. Begitu juga setiap ateliran yang datang, sebelum memasuki hari Senin yang ribut, merasakan kopi paste ala Atelir Ceremai sambil mendengarkan diskusi ringan sepertinya menjadi pilihan. Tanggal 16 November 2019, Atelir Ceremai kembali mencatat pertemuan pembaca dan penulis dalam acara Diskusi Buku Keping-keping Kota. Buku kumpulan esai yang diterbitkan Basabasi ini ditulis oleh Udji Kayang. Lalu diulas oleh Array, lelaki dengan logat Sunda yang kental.

Continue reading Diskusi buku Keping-keping Kota Karya Udji Kayang

BARTER #2 : Diskusi Teater Anak

Sebelum para ateliran datang ke Atelir Ceremai, semua sudah tersedia di bar dan bisa segera disajikan. Seperti jam buka yang sudah para ateliran ketahui, satu jam setelahnya, para ateliran datang satu orang, dua orang, bahkan tiga orang. Sesekali beberapa para orang terlihat gerak mereka mengarah ke pagar hitam Atelir Ceremai, sampai di depan nyatanya mereka berbalik badan ke arah jalan menunggu angkot biru yang sangat hati-hati di jalan itu berhenti tepat di dekat mereka. Durasi tunggu yang memakan waktu beberapa menit, daripada gabut, hitam bola mata itu mengarah ke tulisan Atelir Ceremai yang artsy atau menilik di balik dinding kaca barisan buku dan kopi-kopian yang mengerenyitkan dahi. Jalan Rawamangun Muka kali ini memang berisik, seperti ambulan lalu lalang tiga kali dengan sirine dan pawainya membawa jenazah untuk disemayamkan di taman bahagia Rawamangun.

Continue reading BARTER #2 : Diskusi Teater Anak

JUANCOK #2: Bersama Azzam Fi Rullah dan karyanya.

Asupan gizi tontonan berkualitas terus gencar dilakukan Dewan Kurator Atelir Ceremai. Kalian sudah tahu, Imam sebagai kepalanya, yang tak memiliki makmum adalah seorang lelaki tampan begitu suka ria jika diajak ngobrolin film apa saja. Dia selalu antusias jika ada film-film terbaru yang sedang tayang di bioskop. Apalagi kalau ada yang ngajak nonton bareng, plus dibayarin. Gercep pasti. Wajar saja kalau wanita berdandan tebal di depan pintu masuk studio bioskop sudah tidak asing lagi dengan abang Imam ini. Tapi tidak hanya itu saja, film-film garapan sineas muda yang tidak tayang di bioskop kesayangan kita pun diapresiasi sama rata oleh Imam, sebaiknya oleh semua masyarakat. Karena belum tentu yang masuk dalam ruang bioskop lebih baik dibanding yang membagikan karyanya lewat media yang lain. Bukan begitu, Ferguso?

Continue reading JUANCOK #2: Bersama Azzam Fi Rullah dan karyanya.

Bakar #5: Ngobrolin Apa-apa Siapa-siapa dan Begini Begitunya Bertarung Dalam Sarung Karya Alfian Dippahatang

Dewan Kurator Sastra, M. Putera Sukindar, yang digadang-gadang kembaran pemeran Minke dalam film Bumi Manusia ini begitu gencar menyebarkan virus-virus literasi. Terbukti hal itu dari program Bakar (Bahas Karya) yang sudah kelima kalinya dilangsungkan. Atelir Ceremai ikut serta meramaikan karya-karya sastra yang masuk dalam Kusala Sastra Khatulistiwa 2018-2019. Alfian Dippahatang dengan karyanya yang berjudul Bertarung dalam Sarung merupakan salah satu yang masuk dalam daftar panjang KSK 2018-2019. Kebetulan Alfian juga akan melakukan residensi ke Prancis. Saat ia singgah sebentar di Jakarta, jadi Putera mengambil kesempatan untuk membahas karyanya.

Continue reading Bakar #5: Ngobrolin Apa-apa Siapa-siapa dan Begini Begitunya Bertarung Dalam Sarung Karya Alfian Dippahatang

Bakar #4: Ngomongin Apa-apa Siapa-siapa Kenapa-begitu Balada Supri

Dewan Kesenian Jakarta melihat kreativitas generasi ke generasi dalam bidang sastra, khususnya novel terus berkembang. Secara serius, DKJ pada skala yang telah ditentukan, selalu mengadakan sayembara penulisan novel. Sayembara yang telah lama diadakan ini menjadi ajang atau batu lompatan bagi penulis-penulis muda untuk memperkenalkan karyanya. Ajang ini berkualitas dengan sistim yang dibuat dan juri yang tidak perlu diragukan lagi kiprahnya di dunia sastra. Pada tahun 2018, DKJ mengadakan sayembara penulisan novel yang diikuti oleh 245 naskah yang telah lolos seleksi administrasi. Dan di akhir tahun 2018, DKJ mengumumkan tiga naskah pemenang. Orang-orang Oetimu karya Felix K. Nesi menjadi pemenang pertama, Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman karya Ahmad Mustafa sebagai pemenang kedua, dan Balada Supri karya Mochamad Nasrullah sebagai pemenang ketiga.

Continue reading Bakar #4: Ngomongin Apa-apa Siapa-siapa Kenapa-begitu Balada Supri

Pengantar Membaca Balada Supri

“Panta Rhei”, pekik Heraklitus, filsuf Yunani itu. Sejarah itu berulang, katanya. Dalam keberulangannya, sejarah bukan saja kerap memperlihatkan rantaian tragedi, namun juga selalu ditulis oleh pemenang, yakni negara dan tentara. Pada narasi sejarah yang dipilih itu, selalu ada yang tidak masuk hitungan; yang disingkirkan. Mereka adalah pihak-pihak yang bukan saja dianggap tidak penting; melainkan dalam penulisan sejarah acapkali dilekatkan dengan pelbagai stereotip: jahat, culas, brengsek, bahkan keji. Merekalah orang-orang yang ditulis kalah dalam sejarah.

Historiografi sejarah kita selama ini didominasi oleh narasi militerisme dan politik perebutan kekuasaan. Tentu saja ada upaya-upaya yang menawarkan sejarah dalam perspektif berbeda dalam buku teks. Misalnya tulisan jurnalisme sastrawi Linda Christanty, berjudul Hikayat Kebo di majalah Pantau. Linda secara menarik menjadikan Kebo untuk merekam sebuah titik penting dalam sejarah, yakni mencuatnya kekerasan massa di Jakarta pasca kejatuhan rezim Orde Baru. Dalam tulisan itu—maupun cerpen-cerpen Linda—kita dapat membacanya sebagai upaya Linda untuk menyatakan bahwa sejarah nasional dan resmi tidak akan bermakna apabila tanpa sejarah lokal atau sejarah keluarga.

Continue reading Pengantar Membaca Balada Supri

Bakar #3: Ngobrolin Apa-apa Siapa-siapa dan Begini Begitu Sepak bola

Bulan Oktober yang tidak begitu spesial-spesial amat bagi mereka yang masih jomblo, di hari Minggu yang begitu-begitu saja. Tapi Atelir Ceremai sedang spesial dan tidak begitu-begitu saja. Selalu saja ada kegiatan. Selalu saja ada ruang proses apresiasi dan transfer kreatif yang semakin padat.  Sifat yang terbuka ini, mendatangkan banyak kebahagiaan dan uang bukan jadi patokan.

Suasana jalan tak begitu ramai betul. Simpang tiga Atelir Ceremai masih dilalui angkot biru yang ugal-ugalan. Bocah dengan baju yang kebesaran dan kulit berias coklat mengatur lalu lintas, cita-cita menjadi polisi yang belum kesampaian atau berlagak tidak perlu seragam-seragam amat untuk mengatur jalan.

Ladenis yang bertugas hari itu, menyapu dan mengepel lantai marmer putih Atelir Ceremai sambil memandang ke luar dari kaca. Bangku-bangku sudah di susun rapi menjelang acara. Dua kursi pembicara dan satu kursi moderator sudah tertata, satu meja di depan pembicara masih kosong.

Continue reading Bakar #3: Ngobrolin Apa-apa Siapa-siapa dan Begini Begitu Sepak bola