Category Archive : Artikel

Eksekusi dari Sudut Sempit

“Suatu negara telah mencapai peradabannya secara maksimal jika pertandingan sepak bola dapat terlaksana tanpa wasit” -José Luis Coll (aktor dan penulis Spanyol)

Sebuah anekdot yang subtil. Di zaman Victorian, wasit tidaklah diperlukan karena sepak bola pada dasarnya dibuat berdasarkan gentleman’s agreement. Sebuah peristiwa yang sebelumnya dikenang dengan berbagai sudut: hiburan populer dari pelatihan militer, mitos, dan pertaruhan merebutkan kesenangan duniawi.

Buku Mengapa Sebelas Lawan Sebelas? terbit pertama kali pada tahun 2017 di Kolombia. Luciano Wernicke, penulis olahraga kenamaan Argentina dengan cermat melakukan riset dari berbagai sudut yang jarang kita ketahui. Saya tentu saja sebelumnya tidak tahu bahwa kata “gol” berasal dari puisi William de Shoreham (penyair Inggris). Kata tersebut berasal dari istilah inggris kuno, yaitu “gal” yang bermakna “batas” atau “sasaran”. Pertanyaan-pertanyaan lain muncul di dalam buku ini. Ada 100 topik tematik yang dibahas. Misalnya, saya langsung iseng saja untuk menjawab pertanyaan di blurb belakang buku terbitan Majin Kiri.

Read More

Lokalis X Atelir Ceremai: Ngomong-ngomong Episode 2

Sejak senja menjelang azan Magrib, sebuah mobil hitam masuk pagar wilayah parkir, membawa alat-alat sound system lewat pintu belakang setelah pintu belakang mobil dibuka. Barang-barang dibiarkan tergeletak di dalam ruang Atelir Ceremai. Karena lelah dan macet, rokok dan kopi tubruk buatan ladenis dapat menenangkan hati sekejap.

Selepas Magrib, orang yang mengepalai bidang sound system mulai mengutak-atik. Tak perlu waktu lama, pelantang sudah berbunyi. Dengan dua speaker, satu di belakang pembicara dan satu lagi berada di ruang luar. Maksudnya barangkali, agar semua yang ada di Atelir atau bahkan yang sedang melewati tempat itu dapat mendengarkannya. Di pintu masuk, ada sebaris kabel yang sudah dilem agar tidak terjadi kecelakaan ketika lalu lalang atau saat mengantar minuman. Ditambah lagi, tidak hanya dua speaker, ada juga layar seperti televisi dan posisinya berada di belakang pembicara. Teman-teman dari Lokalis yang menyiapkan segalanya menjadi lebih meriah dan bergema.

Read More

Pascadiskusi: Mengurai Film Parasite (2019) oleh Ulasinema

Ulasinema.com dan komunitas seni Atelir Ceremai menghelat diskusi film bertajuk Parasite dan Kesenjangan Sosial pada Jumat sore (20/9) di Rawamangun, Jakarta Timur. Selama diskusi, Parasite memberikan peluang penafsiran dan sudut pandang yang beragam.

Film Parasite, berjudul asli Gisaengchung (2019), merupakan film garapan Bong Joon-hoo. Sineas asal korea ini secara apik menampakkan kesenjangan sosial yang ekstrem di Korea, yang juga termasuk isu di beberapa negara. Bong tidak menunjukkannya dengan sentimen habis-habisan orang kalangan bawah terhadap orang kalangan atas, atau sebaliknya. Ia membungkusnya dengan tragedi-komedi yang divisualkan dengan “pertemuan” keluarga kaya dan keluarga miskin. Si miskin secara “pintar” menipu si kaya.

Read More

Kita Diputar-putar tentang Mana yang Nyata dan yang Tidak

Hasil pembacaan novel Faisal Oddang Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa oleh Khurin Dini, dini6670@gmail.com, (Mahasiswa Sastra Indonesia UNJ 2016)

“Kamu tak perlu memberinya identitas,” Allisa memotong Clevie, “biarkan itu jadi olok-olok pada kehidupan dan juga kenyataan.”

-dikutip dari Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa karangan Faisal Oddang.

Makruh memang hukumnya, jika menilai sebuah buku hanya dari tipis-tebalnya jumlah halaman. Seperti juga novelet karya Oddang yang baru saja saya baca ini. Oddang menulis novelet yang berbeda dari tulisan sebelumnya. Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa, ditulis lebih pendek dari sebuah novel, dan lebih pajang dari sebuah cerpen. Biasanya tulisan dengan panjang 116 halaman itu dapat dibaca dengan sekali duduk, tapi novelet ini nyatanya menyita waktu saya selama berhari-hari untuk sampai pada kata “mengerti”.

Read More