Bingung, Iksan Skuter di Jakarta

Bingung, Iksan Skuter di Jakarta

Dalam Bingung, anasir yang termuat pada lirik lagu Iksan Skuter (selanjutnya ditulis Iksan—pen) tampak konkret. Katakan, segenap objek materiel di dalamnya tampak riil, sekalipun tersuguh sebagai analogi atau kiasan. Bahkan, Iksan tidak sungkan untuk memberinya suara. 

Iksan tidak melulu menampilkan ‘aku’ secara dominan. Ia kerap menjadi pengujar, yang muncul sebagai aku-lirik, tapi tidak sepenuhnya. Lagi pula liriknya sudah musik. Liriknya sudah bunyi. Secara bentuk, ada lirik yang terkumpul di Bingung bersepakat dengan puisi, tapi ada pula yang berkhianat. Tapi, pengkhianatan itu akan dibela oleh musiknya. Predikat itulah yang mengingatkan saya kepada WS Rendra, bersama Kantata Takwa.

Seandainya Iksan lebih dahulu membuat lirik, baru disusul musik—saya cenderung membenarkan terminologi ‘musik puisi’ ketimbang musikalisasi puisi—dan Iksan toh merasa tidak cukup dengan menguar kata-kata bak penyair. Kecerewetan liriknya menggugah kewarasan kita yang normatif, menegur tabiat kita yang indolen dan bergantung pada common sense. Tidak semua puisi yang kita baca hari ini punya daya gugah seperti itu.

Karya-karya Iksan, musik dan liriknya dalam Bingung, seumpama sepaket ikhtiar ‘penyadaran’, yakni, di suatu masyarakat yang sakit dan mustahil sembuh, ambisi ‘sehat’ bukanlah urgensi, alih-alih yang terpenting kita menyadari bahwa kita sakit. Negara yang perlu menjamin kesehatan kita—sebetulnya, bukan?

Sebab, melalui lirik, sekaligus musik Iksan: yang-sipil vis a vis dengan yang-aparat dan yang-dilemahkan dengan yang-digdaya. Olehnya, kita seperti dibuat ngeh: struktur kekuasaan dan tetek-bengek relasi hingga tataran hukum yang berlaku ‘memenangkan’ golongan penguasa. Tajam ke bawah, tumpul ke atas. Selain itu, tentu lirik Iksan tidak hanya berkutat pada hal-hal politis belaka.

Boleh jadi, Iksan tidak mengembalikan lirik kepada puisi, tetapi kepada hati nurani. Itulah selera ideologis yang dipilihnya secara merdeka. Ia meniti ke sepanjang margin seluk-beluk kehidupan, yang percaya kemanusiaan harus dibela. Kemanusiaan yang enggan memanjakan human sebagai pusat dan alam sebagai pengingatnya. Tidak ada kemanusiaan tanpa alam. Iksan memberi ‘suara’ kepada alam, yang secara konservatif terkadang dipasifkan semata-mata penyeimbang.

Membaca Bingung, membuat saya mafhum, kesadaran akan alam menggerakkan Iksan lebih toleran—sehingga kita bisa sejenak menolak persamaan ‘manusia = pusat kuasa’. Kemanusiaan tidak bekerja untuk membela manusia yang tidak menghargai alamnya. Dari situlah kita mengidentifikasi cara pandang ke-Jawa-an Iksan yang kontekstual: hidup di dunia ini senantiasa berhubungan dengan konsepsi jagad cilik dan jagad gede.

Tidak bisa disangkal, Iksan melandaskan musiknya pada gagasan serta pengalamannya. Bingung adalah kumpulan ‘realisasi’ pergulatan Iksan memaknai ketimpangan atas apa yang pantas dan apa yang saru dari polah serta komunikasi manusia antarsesamanya, terhadap alam—spasial yang melingkupinya. Gagasan dan pengalaman saling padu, berinterteks, dalam lirik Iksan. Keduanya berimbang atau saling mengimbangi. Itulah mengapa fenomena yang disaksikan Iksan dan mewujud secara ilustratif tidaklah bias. Tidak hanyut jadi klise.

Ucapan Soni Triantoro di pengantar Bingung: lirik Iksan merupakan ‘cara pandang akar rumput yang sejujurnya’ saya benarkan separuhnya, kendati praduga itu tidak berimplikasi pada yang tema politik saja. Pemaknaan itu mustahil ada jika Iksan sendiri tidak membawa dirinya sebagai pribadi terbuka sehingga tidak ada jurang antara yang ia gusarkan dan yang ia jalani. Bingung membuat pendengar Iksan kafah seutuhnya.

Nilai-nilai yang disuarakan barangkali tawaran bagi pembacaan supaya kita bisa lebih reflektif atas hal-hal yang terjadi di sekitar. Khususnya, seputar kekuasaan dan sejarah kemanusiaan. Meskipun tidak dipungkiri, saya kira, Iksan memenuhi panggilan bermusik terlebih dahulu, ketimbang penulis lirik. Prakteknya, menulis lirik tuntutan teknis dari tahap berkarya. Namun, yang utama, ternyata adalah kita sanggup mengambil posisi: tidak cari aman atau berjarak dengan apa yang ingin kita sampaikan. Di ranah musik dan di segi kehidupan lainnya.

Iksan mengemban konsekuensi yang mudah di mulut, tapi sulit dilakoni: ‘aktivisme’ dalam (ber)musik. Apabila aktivisme kini populer dan bikin trendi, saya rasa, Iksan bukan yang ikut-ikutan dengan kegenitan tertentu. Ia hadir sebagai yang-terlibat secara wajar. Iksan emoh jadi snob. Lirik, dan musiknya adalah keseharian kita.

Bingung merepresentasikan Iksan sebagai kawan penegur. Ke-Indonesia-an dipersoalkan Iksan tidak dipotret. Iksan bukan juru potret. Perkara itulah yang membuat saya membayangkan: sebelum menulis kritik, Iksan mengukur dengan otokritik kepada dirinya sendiri. Bingung berpotensi membuat kita bisa menunjuk siapa musuh, yang jangan-jangan diri kita sendiri. Otokritik itu membentuk Iksan: menjadi heroik secara lumrah dan kita menerimanya. Keberpihakannya adalah perkara logis, tapi otokritik menjelma syarat mutlak dari kontemplasi dan hadap-masalah yang dialaminya. Proses kreatifnya.

Iksan orang biasa. Manusia yang punya keluarga, mimpi, harapan, dan cita-cita. Iksan adalah kita yang hendak merawat akal sehat. Kita bisa kembali mengenali kemanusiaan dari alam. Lebih lanjut, alam: sumber cinta yang paling murni—yang tidak pernah mengelabui. Alam: penjamin rasa syukur. Dari situlah, Iksan mengenali dirinya, ke-Indonesia-an yang dimilikinya—secompang-camping apa pun (aparatur) negara, serawan apa pun kita yang kikuk mengatasnamakan diri sebagai rakyat.

Tulisan ini percobaan: uraian singkat—dari saya yang belum tahu Iksan secara personal dan terhitung baru selaku pendengarnya—menghindari reduksi, walau pada akhirnya saya kewalahan. Di Jakarta, saya jadi kenal Iksan. Melalui Bingung, kita menerima Iksan, dalam ‘rupa’ bahasa Indonesia yang peduli, segar, dan terang sebagai ‘tanda bahaya’. Sebabnya, kita jadi berkarib dekat. Karenanya, kita tidak merasa sendiri ‘berjuang’. Kalau pun nanti bingung, mudah-mudahan, bukan lantaran kita membaca Bingung.

Hamzah Muhammad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*