BARTER #2 : Diskusi Teater Anak

BARTER #2 : Diskusi Teater Anak

Sebelum para ateliran datang ke Atelir Ceremai, semua sudah tersedia di bar dan bisa segera disajikan. Seperti jam buka yang sudah para ateliran ketahui, satu jam setelahnya, para ateliran datang satu orang, dua orang, bahkan tiga orang. Sesekali beberapa para orang terlihat gerak mereka mengarah ke pagar hitam Atelir Ceremai, sampai di depan nyatanya mereka berbalik badan ke arah jalan menunggu angkot biru yang sangat hati-hati di jalan itu berhenti tepat di dekat mereka. Durasi tunggu yang memakan waktu beberapa menit, daripada gabut, hitam bola mata itu mengarah ke tulisan Atelir Ceremai yang artsy atau menilik di balik dinding kaca barisan buku dan kopi-kopian yang mengerenyitkan dahi. Jalan Rawamangun Muka kali ini memang berisik, seperti ambulan lalu lalang tiga kali dengan sirine dan pawainya membawa jenazah untuk disemayamkan di taman bahagia Rawamangun.

Sementara di sudut yang penuh warna, kebahagiaan sedang tampak di setiap raut ateliran. Bukan membahagiakan para jenazah yang pindah rumah, tetapi pertemuan antarsesama perlu dirayakan dengan segelas kopi paste dan kentang kentung. Asbak mulai terisi, tempat duduk mulai dipenuhi, dan ladenis dituntut gesit tapi santuy.

Sudut ruangan dalam, Kepala Toko sedang mengecek kembali perkakas yang akan digunakan sepanjang acara nanti. Susunan bangku baris memanjang seperti biasa. Pada sisi kanan sudah berdiri tegak layar sorot proyektor untuk menampilkan video. Kepala Dewan Kurator Teater Atelir Ceremai, Tiyas Puspita ikut membantu merapikan. Kepala Toko merelakan laptop miliknya dipakai media operasi. Pengeras suara berbentuk bulat hitam sudah tersambung ke laptop. Namun setelah selesai pemutaran video, pengeras suara dialihkan ke fungsi yang lain, yaitu sebagai pelantang sekaligus juga agar suara bersih terdengar di  radio suaraedukasi.com. Radio suaraedukasi.com meliput acara secara siaran langsung.

Memang benar adanya, bahwa Rabu, 7 November 2019 di Atelir Ceremai mengadakan Barter #2 yang diberi tajuk Diskusi Teater Anak. Setelah semua sudah aman, ateliran mulai menduduki bangku ruangan dalam. Biasa orang kita-kita tidak mau mengisi bangku paling depan terlebih dahulu. Beberapa menit sebelum azan Magrib, video pementasan teater anak diputar. Pertengahan pemutaran video dihentikan dan dilanjutkan dengan sesi diskusi. Mohammad Fadli yang sudah beberapa kali menyutradarai pementasan teater anak, memulai diskusi malam itu dengan penuh ceria dan tampan maksimal. Dadi Jaim Muhtadi yang berprofesi guru di salah satu sekolah, juga sebagai rekan kerja Mohammad Fadli sebagai pimpinan produksi. Jaim, panggilan akrabnya, mengatakan bahwa hasrat berteater muncul kembali karena rasa rindu yang sudah lama ia tahan sejak kiprah teaternya di kampus bersama Teater Zat. Fadli dan Jaim bersepakat mengatakan bahwa saat ini teater tidak lagi menjadi talenta yang diminati para anak laki-laki. Ekstrakurikuler teater di sekolah yang mereka bina cenderung diisi oleh anak-anak perempuan. Hal ini menjadi pertanyaan besar bagi pembina dan pegiat teater, kenapa seperti itu. Padahal dulunya, teater menjadi modal unjuk diri bagi anak laki-laki. Irsyad Ridho yang menghadiri acara tersebut menanggapi hal yang sama. Hal lain yang menjadi topik adalah bagaimana anak-anak dapat bermain dengan kemauan hatinya, bukan atas dasar keinginan orang tua. Efek yang ditimbulkan adalah hasrat untuk bermain teater terlihat kurang pada diri anak-anak, tetapi jika itu muncul dalam diri anaknya sendiri tentu akan berbeda kelihatannya. Anak tidak bisa dipaksakan untuk melakukan apa yang tidak ia suka, kesuksesan yang diraih oleh teater binaan Mohammad Fadli dan Jaim karena membiarkan anak-anak bergerak dengan apa yang mereka suka. Begitu pula yang disampaikan oleh pembicara selanjutnya, Rangga Pradityandaru, yang bergabung dalam proses bersama Teater Situs sebagai penata musik. Rangga dalam mengolah lirik lagu dalam naskah teater tidak serta-merta asal dalam membuatnya. Rangga harus juga mengetahui bagaimana pemeran yang akan membawakan lagu itu. Rangga juga tidak memaksakan ide itu harus datang dengan seketika, ia membiarkan lirik-lirik itu masuk ke dalam dirinya dan berusaha bagaimana menjadi seorang anak yang bernyanyi. Yang terpenting, dalam profesionalitasnya, bertanggung jawab dengan tenggat waktu yang telah ditentukan.  Tiyas, sebagai moderator tampak serius mendengarkan ketiga pembicara membicarakan keahlian dan pendapat mereka masing-masing.

Setelah diskusi selesai, diakhir acara, pemutaran video pementasan yang berjudul Tiara di Alam Mimpi yang sebelumnya meraih harapan 1 dalam Festival Teater Anak tahun 2019 di Taman Ismail Marzuki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*