Bakar #4: Ngomongin Apa-apa Siapa-siapa Kenapa-begitu Balada Supri

Bakar #4: Ngomongin Apa-apa Siapa-siapa Kenapa-begitu Balada Supri

Dewan Kesenian Jakarta melihat kreativitas generasi ke generasi dalam bidang sastra, khususnya novel terus berkembang. Secara serius, DKJ pada skala yang telah ditentukan, selalu mengadakan sayembara penulisan novel. Sayembara yang telah lama diadakan ini menjadi ajang atau batu lompatan bagi penulis-penulis muda untuk memperkenalkan karyanya. Ajang ini berkualitas dengan sistim yang dibuat dan juri yang tidak perlu diragukan lagi kiprahnya di dunia sastra. Pada tahun 2018, DKJ mengadakan sayembara penulisan novel yang diikuti oleh 245 naskah yang telah lolos seleksi administrasi. Dan di akhir tahun 2018, DKJ mengumumkan tiga naskah pemenang. Orang-orang Oetimu karya Felix K. Nesi menjadi pemenang pertama, Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman karya Ahmad Mustafa sebagai pemenang kedua, dan Balada Supri karya Mochamad Nasrullah sebagai pemenang ketiga.

Dari ketiga naskah pemenang novel DKJ ini, dewan kurator sastra Atelir Ceremai, Putera Sukindar mencoba merespon Balada Supri. Selain pemenang, Mochamad Nasrullah juga merupakan salah satu alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta yang membuktikan kualitasnya. Sebagai seorang guru, Nasrul tidak hanya cuap-cuap belaka di depan muridnya, namun juga memperlihatkan kalau seorang guru Bahasa Indonesia juga perlu berkarya. Tak lama setelah novel Balada Supri yang diterbitkan oleh Penerbit Anagram ini beredar, pada 20 Oktober 2019, tentunya di Atelir Ceremai, kembali mengadakan Bakar #4.

Mochamad Nasrullah jauh-jauh datang dari Jember dan untuk sementara waktu libur dari kegiatan mengajar anak SMP. Datang ke Jakarta untuk melakukan tur ke beberapa tempat. Sebelum puncak tur berakhir di Atelir Ceremai, Nasrul dan Balada Suprinya sudah berkunjung ke Ruru Radio dan Post Santa.

Walau acara sempat terlambat dimulai, tapi ateliran tetap setia menunggu semenjak sore. Kedatangan Nasrul disambut hangat oleh Atelir Ceremai dan teman sejawat yang sudah lama tak jumpa, berbincang-bincang apa saja sambil menunggu acara dimulai. Sebelum pukul tujuh malam, pengunjung sudah mengisi tempat duduk yang disediakan dengan membaca dua lembar tulisan pengantar diskusi yang ditulis oleh Muhammad Khambali, seorang esais sekaligus pemantik diskusi. Dalam tulisannya, Aang, panggilan akrab Muhammad Khambali berangkat dari sejarah generasi keluarga yang tidak dikuasai oleh konflik antara elit. Tokoh-tokoh yang dibangun dalam Balada Supri merupakan tokoh-tokoh yang berada dalam kalangan biasa.

Pembicaraan menarik lainnya, yaitu bertumpu pada anggapan bahwa tokoh-tokoh perempuan yang ada dalam novel Balada Supri tidak memiliki kekuatan atau dorongan untuk mengubah keadaan. Beberapa orang beranggapan bahwa novel ini maskulinitas, yang menempatkan perempuan dalam kasta di bawah laki-laki. Namun, hal itu ditanggapi oleh Nasrul, ia hanya merekam keadaan yang ada tanpa memiliki tendensi tertentu atau justifikasi akan hal itu. Ia menerima dan tidak menyanggah tanggapan itu. Menurut Aang, terdapat perubahan karakter tokoh perempuan, tidak serta-merta berada di bawah pengaruh laki-laki. contoh pada tokoh Angsa Mei. Aang mengatakan bahwa Balada Supri lebih bertumpu pada cerita ketimbang tokoh-tokohnya, selepas ia menyampaikan bahwa cerita memiliki dua jenis, yang bertumpu pada cerita atau alur dan karakter.

Akhir acara, beberapa orang menghampiri Nasrul dan menyuguhkan novel Balada Supri untuk dimintai tanda tangan. Diskusi yang dimandori oleh Mussab Askarullah, seorang pegiat sastra, menutup diskusi ini dengan tepuk tangan dan promosi penjualan buku Balada Supri yang terpajang di meja Atelir Ceremai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*