Author: Atelir Ceremai

Azzam Fi Rullah dan Filmnya: Sebuah Absurditas

Bagi kebanyakan orang, bulan Oktober merupakan ‘bulan seram’. Sebagai kurator film Atelir Ceremai, momen menarik seperti ini membuat saya berinisiasi untuk memutarkan film horor di bioskop kesayangan ateliran. Tetapi yang diputar bukan film horor seperti biasa, ini adalah film horor kelas B.

Film kelas B ini dipersembahkan Azzam Fi Rullah dari Kolong Sinema. Bagi yang asing dengan namanya, Azzam adalah sutradara film kelas B kenamaan bagi komunitas film, khususnya di Jakarta dan Jogja. Azzam sudah mengantongi enam film, di antaranya Pendakian Birahi (2017), Pocong Hiu Unleashed (2017), Azabku Azabmu (2018), Goyang Kubur Mandi Darah (2018), Kuntilanak Pecah Ketuban (2018), dan Rangsangan Gaib (2019). Ia melabeli dirinya sebagai “A true trashy and violent horror movie addict”. Sineas muda ini membawakan empat film andalannya, yaitu Rangsangan Ghaib, Goyang Kubur Mandi Darah, Azabku Azabmu, dan ditutup dengan Kuntilanak Pecah Ketuban.

Read More

JUANCOK #2: Bersama Azzam Fi Rullah dan karyanya.

Asupan gizi tontonan berkualitas terus gencar dilakukan Dewan Kurator Atelir Ceremai. Kalian sudah tahu, Imam sebagai kepalanya, yang tak memiliki makmum adalah seorang lelaki tampan begitu suka ria jika diajak ngobrolin film apa saja. Dia selalu antusias jika ada film-film terbaru yang sedang tayang di bioskop. Apalagi kalau ada yang ngajak nonton bareng, plus dibayarin. Gercep pasti. Wajar saja kalau wanita berdandan tebal di depan pintu masuk studio bioskop sudah tidak asing lagi dengan abang Imam ini. Tapi tidak hanya itu saja, film-film garapan sineas muda yang tidak tayang di bioskop kesayangan kita pun diapresiasi sama rata oleh Imam, sebaiknya oleh semua masyarakat. Karena belum tentu yang masuk dalam ruang bioskop lebih baik dibanding yang membagikan karyanya lewat media yang lain. Bukan begitu, Ferguso?

Read More

Bakar #5: Ngobrolin Apa-apa Siapa-siapa dan Begini Begitunya Bertarung Dalam Sarung Karya Alfian Dippahatang

Dewan Kurator Sastra, M. Putera Sukindar, yang digadang-gadang kembaran pemeran Minke dalam film Bumi Manusia ini begitu gencar menyebarkan virus-virus literasi. Terbukti hal itu dari program Bakar (Bahas Karya) yang sudah kelima kalinya dilangsungkan. Atelir Ceremai ikut serta meramaikan karya-karya sastra yang masuk dalam Kusala Sastra Khatulistiwa 2018-2019. Alfian Dippahatang dengan karyanya yang berjudul Bertarung dalam Sarung merupakan salah satu yang masuk dalam daftar panjang KSK 2018-2019. Kebetulan Alfian juga akan melakukan residensi ke Prancis. Saat ia singgah sebentar di Jakarta, jadi Putera mengambil kesempatan untuk membahas karyanya.

Read More

Bakar #4: Ngomongin Apa-apa Siapa-siapa Kenapa-begitu Balada Supri

Dewan Kesenian Jakarta melihat kreativitas generasi ke generasi dalam bidang sastra, khususnya novel terus berkembang. Secara serius, DKJ pada skala yang telah ditentukan, selalu mengadakan sayembara penulisan novel. Sayembara yang telah lama diadakan ini menjadi ajang atau batu lompatan bagi penulis-penulis muda untuk memperkenalkan karyanya. Ajang ini berkualitas dengan sistim yang dibuat dan juri yang tidak perlu diragukan lagi kiprahnya di dunia sastra. Pada tahun 2018, DKJ mengadakan sayembara penulisan novel yang diikuti oleh 245 naskah yang telah lolos seleksi administrasi. Dan di akhir tahun 2018, DKJ mengumumkan tiga naskah pemenang. Orang-orang Oetimu karya Felix K. Nesi menjadi pemenang pertama, Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman karya Ahmad Mustafa sebagai pemenang kedua, dan Balada Supri karya Mochamad Nasrullah sebagai pemenang ketiga.

Read More

Pengantar Membaca Balada Supri

“Panta Rhei”, pekik Heraklitus, filsuf Yunani itu. Sejarah itu berulang, katanya. Dalam keberulangannya, sejarah bukan saja kerap memperlihatkan rantaian tragedi, namun juga selalu ditulis oleh pemenang, yakni negara dan tentara. Pada narasi sejarah yang dipilih itu, selalu ada yang tidak masuk hitungan; yang disingkirkan. Mereka adalah pihak-pihak yang bukan saja dianggap tidak penting; melainkan dalam penulisan sejarah acapkali dilekatkan dengan pelbagai stereotip: jahat, culas, brengsek, bahkan keji. Merekalah orang-orang yang ditulis kalah dalam sejarah.

Historiografi sejarah kita selama ini didominasi oleh narasi militerisme dan politik perebutan kekuasaan. Tentu saja ada upaya-upaya yang menawarkan sejarah dalam perspektif berbeda dalam buku teks. Misalnya tulisan jurnalisme sastrawi Linda Christanty, berjudul Hikayat Kebo di majalah Pantau. Linda secara menarik menjadikan Kebo untuk merekam sebuah titik penting dalam sejarah, yakni mencuatnya kekerasan massa di Jakarta pasca kejatuhan rezim Orde Baru. Dalam tulisan itu—maupun cerpen-cerpen Linda—kita dapat membacanya sebagai upaya Linda untuk menyatakan bahwa sejarah nasional dan resmi tidak akan bermakna apabila tanpa sejarah lokal atau sejarah keluarga.

Read More

Gundala di Tengah Kota: Antara Urbanisme dan Heroisme

Hari ini Atelir Ceremai buka lebih awal dari biasanya, pukul 15.00 wib. Lebih cepat satu jam dari biasanya. Sejak siang, kepala toko Atelir Ceremai sudah mempersiapkan tata panggung untuk acara hari itu. Bangku penonton dipersiapkan lebih banyak dari biasanya, prediksi kuat mengatakan akan banyak ateliran yang datang. Pengeras suara sudah tegak letaknya di luar ruangan, dua pelantang pun sudah stand by kalau-kalau akan digunakan. Pengeras suara ini dibutuhkan karena mengingat kalau masa di dalam sudah penuh dan antisipasi agar ateliran di luar yang tidak bisa masuk atau sambil merokok tetap dapat mendengarkan obrolan seru di dalam.

Terik hari Rabu, 16 Oktober 2019, Jakarta Center for Cultural Studies (JCCS) mengadakan diskusi mereka yang kedua dengan tema Gundala di Tengah Kota: Antara Urbanisme dan Heroisme. Antara tema dan pembicara yang pas membuat acara ini ditangkap ramai oleh para ateliran, contohnya seperti Seno Gumira Ajidarma, Lilawati Kurnia, Lily Tjahjandari, Henry Ismono (Penulis biografi Harya Suraminata). Acara ini pun dimoderatori oleh dosen tampan, Irsyad Ridho. Konon katanya, JCCS.ID (LINK INSTAGRAM) merupakan sekelompok alumni cultural studies UI.

Read More

Bakar #3: Ngobrolin Apa-apa Siapa-siapa dan Begini Begitu Sepak bola

Bulan Oktober yang tidak begitu spesial-spesial amat bagi mereka yang masih jomblo, di hari Minggu yang begitu-begitu saja. Tapi Atelir Ceremai sedang spesial dan tidak begitu-begitu saja. Selalu saja ada kegiatan. Selalu saja ada ruang proses apresiasi dan transfer kreatif yang semakin padat.  Sifat yang terbuka ini, mendatangkan banyak kebahagiaan dan uang bukan jadi patokan.

Suasana jalan tak begitu ramai betul. Simpang tiga Atelir Ceremai masih dilalui angkot biru yang ugal-ugalan. Bocah dengan baju yang kebesaran dan kulit berias coklat mengatur lalu lintas, cita-cita menjadi polisi yang belum kesampaian atau berlagak tidak perlu seragam-seragam amat untuk mengatur jalan.

Ladenis yang bertugas hari itu, menyapu dan mengepel lantai marmer putih Atelir Ceremai sambil memandang ke luar dari kaca. Bangku-bangku sudah di susun rapi menjelang acara. Dua kursi pembicara dan satu kursi moderator sudah tertata, satu meja di depan pembicara masih kosong.

Read More

Eksekusi dari Sudut Sempit

“Suatu negara telah mencapai peradabannya secara maksimal jika pertandingan sepak bola dapat terlaksana tanpa wasit” -José Luis Coll (aktor dan penulis Spanyol)

Sebuah anekdot yang subtil. Di zaman Victorian, wasit tidaklah diperlukan karena sepak bola pada dasarnya dibuat berdasarkan gentleman’s agreement. Sebuah peristiwa yang sebelumnya dikenang dengan berbagai sudut: hiburan populer dari pelatihan militer, mitos, dan pertaruhan merebutkan kesenangan duniawi.

Buku Mengapa Sebelas Lawan Sebelas? terbit pertama kali pada tahun 2017 di Kolombia. Luciano Wernicke, penulis olahraga kenamaan Argentina dengan cermat melakukan riset dari berbagai sudut yang jarang kita ketahui. Saya tentu saja sebelumnya tidak tahu bahwa kata “gol” berasal dari puisi William de Shoreham (penyair Inggris). Kata tersebut berasal dari istilah inggris kuno, yaitu “gal” yang bermakna “batas” atau “sasaran”. Pertanyaan-pertanyaan lain muncul di dalam buku ini. Ada 100 topik tematik yang dibahas. Misalnya, saya langsung iseng saja untuk menjawab pertanyaan di blurb belakang buku terbitan Majin Kiri.

Read More

RUMUS #1 : Coba Launching Missa Solomnis

Sore hari, dewan kurator dengan beberapa orang sukarelawan membantu mempersiapkan setting ruang untuk agenda malam ini. Gusti, lelaki riang ini tampak kebingungan harus seperti apa dan deg-degan menghadapi malam nanti. Ia kebingunan bagaimana agar tampak bagus dan berkesan ketika ateliran datang menghadap program Ruang Musik yang diinisiasi oleh tim kurator seni musik Atelir Ceremai.

Empat baris susun kursi yang miring, alat-alat musik yang ditata rapi di sudut kanan hadapan penonton dan satu bangku untuk moderator. Pencahayaan malam Minggu, 12 Oktober 2019 itu tampak berbeda dengan sentuhan warna hijau di sisi kanan menyorot ke ruang tengah panggung dan warna biru berada di sisi kiri mengisi sebagian ruang. Campuran hijau yang tenang dan biru yang sendu tampak lebih sesuai dan cocok untuk penampilan malam itu. khusus untuk Gusti, si moderator, kursinya dihiasi lampu warna oren.

Read More

Lokalis X Atelir Ceremai: Ngomong-ngomong Episode 2

Sejak senja menjelang azan Magrib, sebuah mobil hitam masuk pagar wilayah parkir, membawa alat-alat sound system lewat pintu belakang setelah pintu belakang mobil dibuka. Barang-barang dibiarkan tergeletak di dalam ruang Atelir Ceremai. Karena lelah dan macet, rokok dan kopi tubruk buatan ladenis dapat menenangkan hati sekejap.

Selepas Magrib, orang yang mengepalai bidang sound system mulai mengutak-atik. Tak perlu waktu lama, pelantang sudah berbunyi. Dengan dua speaker, satu di belakang pembicara dan satu lagi berada di ruang luar. Maksudnya barangkali, agar semua yang ada di Atelir atau bahkan yang sedang melewati tempat itu dapat mendengarkannya. Di pintu masuk, ada sebaris kabel yang sudah dilem agar tidak terjadi kecelakaan ketika lalu lalang atau saat mengantar minuman. Ditambah lagi, tidak hanya dua speaker, ada juga layar seperti televisi dan posisinya berada di belakang pembicara. Teman-teman dari Lokalis yang menyiapkan segalanya menjadi lebih meriah dan bergema.

Read More