Author: Atelir Ceremai

Bingung, Iksan Skuter di Jakarta

Dalam Bingung, anasir yang termuat pada lirik lagu Iksan Skuter (selanjutnya ditulis Iksan—pen) tampak konkret. Katakan, segenap objek materiel di dalamnya tampak riil, sekalipun tersuguh sebagai analogi atau kiasan. Bahkan, Iksan tidak sungkan untuk memberinya suara. 

Iksan tidak melulu menampilkan ‘aku’ secara dominan. Ia kerap menjadi pengujar, yang muncul sebagai aku-lirik, tapi tidak sepenuhnya. Lagi pula liriknya sudah musik. Liriknya sudah bunyi. Secara bentuk, ada lirik yang terkumpul di Bingung bersepakat dengan puisi, tapi ada pula yang berkhianat. Tapi, pengkhianatan itu akan dibela oleh musiknya. Predikat itulah yang mengingatkan saya kepada WS Rendra, bersama Kantata Takwa.

Read More

SEBENTAR LAGI KITA AKAN PUNYA KATALOG KOMIK ROMAN INDONESIA 1965-1980

Sudah beberapa bulan belakangan, Irsyad Ridho (@irsyadridho.hz) dan Hamzah Muhammad (@hmzhmhmmddlghz) selaku Biang Kerok Atelir Ceremai bersama serombongan ateliran, yaitu Khurin Nurlaili Imandini (@diniwai), Tiyas Puspita Sari (@tiyaaasps), Muhammad Hafizh (@jiunk_), Azril, Anto, Aldiansyah (@lele.laki), Nabila (@patjile), Rama Fajar (@ramanyar), Destriyadi (@tenggut), Bayu (@bayuargha), Anaz (@anamizuri), Anisa, dan Saniyya melakukan kerja kolektif mengumpulkan komik roman Indonesia untuk dijadikan katalog. Mereka mengumpulkan kurang lebih 300 judul komik roman Indonesia yang terbit antara tahun 1965 sampai 1980. Katalog itu nanti akan diterbitkan sebagai buku yang memuat informasi pustaka, seperti judul komik, nama pengarang/komikus, nama penerbit, tahun penerbitan, sinopsis cerita, gambar sampul, dan lain-lain. Rencananya, buku ini akan terbit secara berseri sesuai dengan penambahan jumlah judul komik yang akan dikatalogkan karena masih ada sekitar 500 judul komik roman lagi yang masih menunggu untuk dibongkar. Berikut ini kami tampilkan pandangan mereka tentang latar belakang mengapa katalog tersebut diperlukan.

***

Mengapa Perlu Katalog Komik Roman?

Sejak 50 tahun terakhir kehidupan masyarakat dunia sudah sulit dipisahkan dari hasil-hasil kebudayaan pop. Tumbuhnya bentuk kebudayaan ini sangat dipengaruhi oleh kesalingterkaitan yang erat antara kemajuan ekonomi, teknologi media, politik populisme, dan gaya hidup anak muda. Tampak dengan jelas betapa dalam perkembangan mutakhir kehidupan global, persaingan dalam penyebaran atau distribusi hasil-hasil kebudayaan pop berlangsung di antara negara-negara maju. Amerika Serikat, misalnya, sudah lama menguasai penyebaran produksi film ke pelbagai negara di dunia, termasuk ke Indonesia. Bioskop di Indonesia masih dikuasai oleh jaringan distributor Hollywood dari Amerika Serikat sejak akhir 1990-an sampai sekarang. Sejak 20 tahun terakhir Korea Selatan dan Jepang berupaya menghasilkan bentuk-bentuk baru budaya pop yang khas, seperti drama Korea, manga, anime Jepang, genre musik J-Pop dan K-Pop, yang disebarkan ke seluruh dunia dan berdampak besar pada sektor industri budaya pop mereka yang lain, yaitu kuliner dan pariwisata.

            Sebagai negara yang sangat multibudaya dengan jumlah penduduk yang amat besar, Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar dalam pengembangan kebudayaan pop. Selama kurang lebih 20 tahun terakhir, industri film Indonesia sudah meningkat cukup pesat. Penonton film Indonesia yang makin banyak berpindah ke film nasional tentu turut mendorong daya saing industri film Indonesia. Peningkatan daya saing itu tampaknya terbukti dalam peningkatan kerjasama produksi film nasional dengan beberapa produser internasional akhir-akhir ini. Beberapa film bergenre roman, seperti Ada Apa dengan Cinta (2002), Eiffel I’m in Love (2003), Ayat-ayat Cinta (2008), dan Dilan 1990 (2018),  bahkan mampu mencapai angka jumlah penonton yang sangat besar dalam ukuran box office di dunia perfilman nasional. Pertumbuhan dunia perfilman nasional itu pada gilirannya mendorong pula peningkatan produksi buku, terutama buku fiksi (novel). Terhadap perkembangan tersebut, pemerintah Indonesia memberikan tanggapan strategis dengan membentuk Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) yang secara khusus mendorong perkembangan sektor ekonomi yang sebagian besarnya dihidupi oleh kebudayaan pop.

            Di tengah perkembangan budaya pop tersebut, aspek roman (romance) masih menjadi salah satu tumpuan penting dalam industri budaya pop di dunia, baik dalam film, musik, fashion, game, maupun pariwisata. Secara kultural, roman berperan penting dalam pembentukan hubungan-hubungan interpersonal di antara orang-orang yang hidup dalam kondisi masyarakat yang beragam. Roman telah lama menjadi bagian dari konstruksi budaya modern global yang dianggap dapat melampaui batas-batas ikatan etnis, ras, agama, kelas sosial, maupun nasionalitas.   Dalam konteks pembentukan budaya modern di Indonesia, roman bahkan menjadi penanda kultural yang penting ketika kaum muda terpelajar di awal 1900-an mengkonstruksi perlawanan terhadap budaya tradisional-feodal melalui penolakan terhadap lembaga perjodohan adat di dalam medium representasi kultural yang baru pada saat itu, yaitu novel atau roman. Bahkan istilah “roman” dalam bahasa Indonesia memiliki arti ganda yang simbolik, yaitu novel itu sendiri sebagai medium representasinya sekaligus tema percintaan yang diungkapkan oleh medium tersebut. Penciptaan roman dalam konteks zaman itu dapat dilihat sebagai bagian dari perkembangan budaya pop pada awal Indonesia modern. Melalui medium dan tema roman itu pulalah gagasan nasionalisme Indonesia yang melampaui batas identitas etnis, ras, kelas sosial, dan agama pada saat itu dibentuk dan disebarkan.

            Mengingat pentingnya faktor roman di dalam kebudayaan pop dan relasinya dengan aspek-aspek kebudayaan yang lain, seperti telah dikemukakan di atas, katalog yang memberikan informasi yang lengkap tentang roman di dalam produk kebudayaan pop sangat diperlukan. Salah satu medium roman yang masih diabaikan dalam sejarah kebudayaan pop di Indonesia adalah komik. Di era digital saat ini, kecenderungan intermedia sudah menjadi orientasi dalam penciptaan dan penyebaran hasil-hasil kebudayaan pop. Hubungan interteks dan intermedia antara komik, film, novel, dan animasi—misalnya—sudah semakin erat dan rumit. Sayangnya, di dalam perkembangan kebudayaan pop di Indonesia, hubungan tersebut masih belum dijelajahi dengan baik. Di antara faktor penyebabnya adalah batas-batas historis dari masing-masing medium masih cukup ketat dan tidak semua medium kebudayaan pop yang ada telah diteliti dengan cukup tuntas, bahkan salah satu medium—yaitu komik—masih cenderung diabaikan.

            Karena itu, katalog komik roman Indonesia dapat memberikan pemetaan awal yang sangat penting. Katalogisasi merupakan langkah perintisan yang penting untuk mendapatkan gambaran yang relatif menyeluruh mengenai data-data dasar dari fenomena komik roman di Indonesia. Dalam kasus komik Indonesia, khususnya komik roman pada periode awal perkembangannya, katalogisasi makin menjadi sangat penting karena keberadaan komik-komik itu sendiri tidak jelas, menyebar di tangan para kolektor dan pasar-pasar loak di beberapa kota besar di Indonesia. Harap diingat, komik tidak dikoleksi secara resmi di perpustakaan negara karena telah dianggap sebagai bacaan yang tidak berguna. Sebagai langkah perintisan, katalogisasi yang direncanakan ini akan menampilkan informasi umum atau data dasar yang selanjutnya dapat memberikan peluang bagi upaya intermedia dan interteks dalam kebudayaan pop Indonesia yang selanjutnya berdampak positif bagi kemajuan ekonomi kreatif di Indonesia. Katalog ini juga akan bermanfaat untuk menyelamatkan koleksi komik roman Indonesia yang terserak sehingga dapat membantu pengembangan penelitian selanjutnya. Selain itu, hasil katalogisasi ini akan membantu pustakawan mengembangkan sistem pengelompokan (katalogisasi) yang khusus untuk bahan pustaka yang berbentuk komik.

Contoh Informasi Katalog

Judul: Fajar di Tengah Kabut

Komikus: Zaldy Armendaris

Gambar Sampul: Zaldy Armendaris

Penerbit: Eka Sakti, Jakarta

Tahun Terbit: Mei 1966

Sinopsis: Fajar di Tengah Kabut (1966) menceritakan upaya Anna, seorang ibu-tunggal (single mother), untuk menyembunyikan identitasnya sebagai hostes dari pengetahuan anaknya. Kehidupan ekonomi Anna makin terpuruk sejak terpisah dari suaminya akibat Agresi Militer Belanda di masa perang kemerdekaan nasional. Dia kemudian menikah lagi dengan laki-laki lain yang ternyata tega menjualnya sebagai pelacur. Ketika dia dapat terlepas dari suami keduanya itu, Anna membangun hidupnya kembali menjadi lebih baik sebagai hostes kelas menengah. Anna kemudian mampu mengirim putrinya, Aida, untuk disekolahkan ke Manila. Selama itu pula dia mengaku dirinya bukan sebagai ibu Aida, melainkan bibinya. Ketika Aida pulang kembali ke Jakarta untuk melanjutkan studinya ke universitas, Anna mengarang cerita bohong bahwa ibu kandung Aida sudah meninggal. Rahasia itu pelan-pelan terbongkar ketika Aida mulai curiga bahwa ibunya justru telah dibunuh oleh bibinya. Bersama Rachmat, kekasihnya, Aida kemudian menyelidiki kehidupan bibinya sampai dia mendapati bahwa bibinya adalah seorang hostes sekaligus istri simpanan seorang laki-laki kaya. Melihat kerendahan moral bibinya, Aida makin percaya bahwa bibinya memang telah membunuh ibunya sehingga dia berniat mengajukan bibinya ke pengadilan. Rachmat yang berusaha mencegah niat itu dan mendorong pemecahan yang lebih kekeluargaan. Dia meminta Anna untuk meminta bantuan kepada ayahnya, Pak Trisno. Sebuah kejutan di akhir cerita terjadi, ternyata ayah Rachmat adalah suami pertama Anna yang dulu hilang karena perang. Pertemuan kembali itu membuat Anna mengakui semua rahasia hidupnya di hadapan Aida sekaligus menyelesaikan kesalahpahaman Aida selama ini terhadap Anna, ibu kandungnya. Kesalahpahaman tentang kemungkinan hubungan asmara sedarah antara Aida dan Rachmat pun juga diselesaikan di akhir cerita melalui pengakuan ayah Rachmat bahwa Rachmat sebenarnya adalah anak angkat. Keluarga ini akhirnya kembali menyatu meskipun Anna meninggal di akhir cerita karena serangan jantung.

Perlukah Lagi Realisme?: Renungan atas Pementasan “Senja dengan Dua Kelelawar”

Para pemikir pascamodern bilang bahwa zaman kini adalah zaman yang sangat percaya pada simulakra dalam banyak rupa, entah itu bisnis hoax, pergaulan medsos, iklan dengan simbol agama, identitas halu, suntik muka, pencitraan sana-sini, kampanye hitam, dan segala janji masa depan cerah. Di hadapan simulakra, realitas dipertanyakan dan bahkan dianggap sudah lenyap. Yang ada hanyalah realitas virtual. Dalam situasi seperti ini, perlukah lagi kita kembali pada realisme?

Sambil menonton pementasan “Senja dengan Dua Kelelawar” dari Teater Zat pada 24 Januari yang lalu di Aula Latief UNJ, saya diam-diam mengajukan pertanyaan itu dalam hati. Sejak lampu panggung pertama menyala, memang sudah terasa suasana pentas realisnya. Konsep sayap (wing) dalam panggung prosenium yang ada di kiri dan kanan panggung sudah diubah menjadi jalanan gang perumahan yang menerabas area penonton. Dengan tata panggung seperti itu, penonton seperti terkurung di dalam panggung itu sendiri, dikondisikan untuk menjadi bagian dari pentas, bukan di hadapan pentas seperti biasanya. Tata panggung seperti ini bisa disebut sebagai panggung arena yang diperluas. Bahkan, setting utama pentas ini, yaitu teras sebuah rumah, dibangun tanpa papan peninggi (level) sehingga tingkat kedatarannya tidak berbeda dengan posisi penonton yang duduk bersila di lantai. Posisi seperti ini memang dapat berefek menghilangkan batas atau jarak antara pentas dan penonton. Lantas, dengan tata panggung seperti ini, seberapa realis pertunjukannya sendiri?

Read More

Bincang Santai bersama Haryo Hutomo

Acara di Atelir Ceremai kerap terselenggara secara mendadak. Ini merupakan salah satu sifat tempat ini sebagai ruang kolektif. Ketika seorang seniman kebetulan mampir dan setelah ngobrol ke sana-ke mari, dia akan langsung ditodong untuk mengisi acara. Itulah pula yang terjadi pada seniman yang satu ini: M. Haryo Hutomo.

Dalam diskusi santai pada Minggu sore, 21 Januari 2019, dia membagi cerita pengalaman kreatifnya beberapa tahun belakangan selama mengikuti residensi seni rupa di beberapa negara, seperti China, Jepang, Israel, Azerbaijan, dan Australia.

“Lu eplai-eplai (=apply to) aja. Sekarang banyak kok lembaga kesenian atau kebudayaan di luar negeri yang membuka program bagi para seniman untuk berkarya. Kayaknya sekarang kita gak perlu terlalu tergantung pada lembaga-lembaga kesenian yang mainstream. Bahkan, portofolio gue juga ‘kan gak banyak-banyak amat, yang penting lu punya ide mau ngapain dan ide lu itu relevan dengan program yang lagi ditawarkan,” begitu kira-kira Haryo, yang biasa juga dipanggil Tomo, meringkaskan pengalamannya.

Salah satu ide menarik yang pernah dikembangkan oleh Haryo sebagai karya seni rupa, tepatnya seni terapan, adalah dengan mengeksplorasi peristiwa sejarah di suatu tempat, kemudian dia menampilkannya melalui karya seni yang seakan-akan menggambarkan bahwa itu merupakan peristiwa sejarah yang real, padahal sebenarnya itu hanya fiktif.

“Gue pernah mengembangkan ide ini di Azerbaijan dan ada pegunjung yang agak marah, nunjuk-nunjuk gue, dan mengatakan bahwa gue sebagai orang asing gak pantas menggambarkan peristiwa sejarah tersebut. Gue kemudian bilang bahwa itu hanya peristiwa bohong-bohongan aja. Karena ini merupakan karya seni, orang biasanya kemudian mengerti dan memakluminya. Tapi, gue sengaja memang untuk sedikit mengganggu pandangan atau pengetahuan sejarah yang mainstream dengan menampilkan peristiwa bohong-bohongan seperti itu.”

Selama satu jam lebih, Haryo alias Tomo kemudian menceritakan pengalaman kreatifnya yang lain. Pelan-pelan suasana menjadi agak serius sampai moderator acara, Hamzah, memecahnya dengan pertanyaan ringan.

“Biasanya kan ada hambatan bahasa Inggris, Mo. Gimana lu mengatasi ini?” tanya Hamzah, moderator diskusi, memancing obrolan selanjutnya.

“Ah, apa sih yang susah zaman sekarang. Lu tinggal belajar di Google Academy atau YouTube Institute lah. Bahasa Inggris gue juga gak bagus-bagus amat kok,” sahut Tomo sigap sambil tertawa.

Selanjutnya, obrolan berlangsung lebih hangat melalui pertanyaan-pertanyaan dari para peserta diskusi. Semoga cerita Haryo sore itu berhasil memancing inisiatif para seniman lain yang lebih muda untuk melanglang buana ke negeri orang dan memberi kontribusi bagi pertemuan kesenian dan kebudayaan di dunia. Bukankah HB Jassin pernah menyatakan bahwa sastra (=seni) Indonesia adalah warga sastra (=seni) dunia?

Irsyad Ridho

Perbincangan tentang Obyek yang Bersuara: Ulasan atas Tiga Monolog

Monolog sedari awal sudah menawarkan paradoks karena bagaimanapun monolog itu sendiri merupakan dialog. Kita tahu bahwa ketika seseorang berbicara, dia pasti berbicara kepada orang lain. Berbicara sudah terlanjur menjadi tindakan manusia yang tercipta dalam kebersamaan, yang mempersyaratkan kehadiran orang lain, sebuah tindakan di dalam dan melalui komunitas atau masyarakat. Karena itu, tidak mungkin kita memahami monolog secara harfiah sebagai “berbicara sendiri”, yaitu berbicara tanpa kehadiran orang lain, tanpa membayangkan orang lain. Ringkasnya, tidak mungkin ada purifikasi atau pemurnian suara sendiri. Suara seseorang selalu berada dalam lingkungan pertemuan dengan suara-suara pihak lain. Dengan kata lain, pada dasarnya tidak ada monolog dalam pengertian murni dan harfiah. Karena itu, menurut hemat saya, kita perlu meletakkan pengertian monolog sebagai sebuah teknik semata di dalam dialog, sebuah modus percakapan, cara khusus untuk mengajak berbincang. Dan, teknik monolog itu muncul justru ketika dialog yang konvensional sudah penuh dengan pembungkaman atas suara yang lain. Dalam pengertian inilah saya hendak membahas tiga monolog yang dipentaskan di Atelir Ceremai pada tanggal 20 Desember 2019 yang lalu.

Read More

Menawarkan Ruang yang Akrab: Ulasan Ringkas atas Konser Album Pesan dari Kabar Burung

Konser album Pesan dari grup musik Kabar Burung pada 21 Desember 2019 yang lalu dimulai dengan suara glokenspil, violin, dan keyboard sebagai pemangku bunyi pertama pada lagu “Telepon”. Frekuensi violin sedikit lebih tinggi dari instrumen lain. Pada lagu kedua, warna suara piano terlalu tajam. Meski balance cukup baik, drum  tidak bisa mempertahankan tempo dari awal sampai akhir lagu. Sustain bas kurang terasa, terlalu stacato. Apakah ini dimaksudkan agar sejalan dengan tema lagu kedua itu, yaitu “Cemas”? Entahlah. Sebelumnya, penonton disuguhi video musik Pesan sebagai menu pembuka konser ini. Dengan mengambil gaya visual pascamodern, video musik ini memberikan aura unik pada pembukaan konser meskipun terasa cukup singkat dan kurang mengigit.

Read More

“Cemas” dari Kabar Burung: Sebuah Permulaan ke Arah Pasca-Retro?

Sebagai bagian dari proses penandaan (semiosis), sebuah karya musik atau lagu hadir untuk meminta penafsiran dari para pendengarnya. Tulisan ini merupakan upaya penafsiran itu, sekaligus sebagai sambutan hangat atas dirilisnya album perdana Kabar Burung yang bertajuk Pesan yang secara resmi diluncurkan dalam konser album mereka di Auditorium IFI (Institut Français Indonesia) pada tanggal 21 Desember 2019 yang lalu. Dalam tulisan ini, saya hanya menafsirkan satu lagu dalam album itu, yaitu “Cemas”, demi memancing perbincangan selanjutnya.

Read More

BAKAR #6: Diskusi Buku dan Musik Puisi Bersama Theoresia Rumthe dan Weslly Johannes

Atelir Ceremai menyambut baik kedatangan di Jakarta dan hajat Theoresia Rumthe dan Weslly Johannes yang ingin berbagi lewat karya mereka yang terbaru. Lewat kurator Sastra Atelir Ceremai, acara ini menjadi program BAKAR #6. Kolaborasi ini sangat disambut baik oleh kedua penulis tersebut yang sebelumnya menulis buku secara bersama-sama. Diskusi santai mengenai buku baru mereka yang berjudul Selamat Datang, Bulan yang ditulis oleh Theoresia Rumthe dan Bahaya-bahaya yang Indah oleh Weslly Johannes disambut baik oleh para penggemar mereka.

Read More

Diskusi buku Keping-keping Kota Karya Udji Kayang

Malam Minggu memang jeda waktu yang tepat untuk melegakan segala beban di pundak dan kening yang terus-terus mengkerut. Nongkrong dengan segelas teh atau kopi sambil ngobrol-ngobrol menjadi rutinitas yang dicari-cari. Begitu juga setiap ateliran yang datang, sebelum memasuki hari Senin yang ribut, merasakan kopi paste ala Atelir Ceremai sambil mendengarkan diskusi ringan sepertinya menjadi pilihan. Tanggal 16 November 2019, Atelir Ceremai kembali mencatat pertemuan pembaca dan penulis dalam acara Diskusi Buku Keping-keping Kota. Buku kumpulan esai yang diterbitkan Basabasi ini ditulis oleh Udji Kayang. Lalu diulas oleh Array, lelaki dengan logat Sunda yang kental.

Read More

BARTER #2 : Diskusi Teater Anak

Sebelum para ateliran datang ke Atelir Ceremai, semua sudah tersedia di bar dan bisa segera disajikan. Seperti jam buka yang sudah para ateliran ketahui, satu jam setelahnya, para ateliran datang satu orang, dua orang, bahkan tiga orang. Sesekali beberapa para orang terlihat gerak mereka mengarah ke pagar hitam Atelir Ceremai, sampai di depan nyatanya mereka berbalik badan ke arah jalan menunggu angkot biru yang sangat hati-hati di jalan itu berhenti tepat di dekat mereka. Durasi tunggu yang memakan waktu beberapa menit, daripada gabut, hitam bola mata itu mengarah ke tulisan Atelir Ceremai yang artsy atau menilik di balik dinding kaca barisan buku dan kopi-kopian yang mengerenyitkan dahi. Jalan Rawamangun Muka kali ini memang berisik, seperti ambulan lalu lalang tiga kali dengan sirine dan pawainya membawa jenazah untuk disemayamkan di taman bahagia Rawamangun.

Read More