Bingung, Iksan Skuter di Jakarta

Dalam Bingung, anasir yang termuat pada lirik lagu Iksan Skuter (selanjutnya ditulis Iksan—pen) tampak konkret. Katakan, segenap objek materiel di dalamnya tampak riil, sekalipun tersuguh sebagai analogi atau kiasan. Bahkan, Iksan tidak sungkan untuk memberinya suara. 

Iksan tidak melulu menampilkan ‘aku’ secara dominan. Ia kerap menjadi pengujar, yang muncul sebagai aku-lirik, tapi tidak sepenuhnya. Lagi pula liriknya sudah musik. Liriknya sudah bunyi. Secara bentuk, ada lirik yang terkumpul di Bingung bersepakat dengan puisi, tapi ada pula yang berkhianat. Tapi, pengkhianatan itu akan dibela oleh musiknya. Predikat itulah yang mengingatkan saya kepada WS Rendra, bersama Kantata Takwa.

Continue reading Bingung, Iksan Skuter di Jakarta