Home

BAKAR #6: Diskusi Buku dan Musik Puisi Bersama Theoresia Rumthe dan Weslly Johannes

Atelir Ceremai menyambut baik kedatangan di Jakarta dan hajat Theoresia Rumthe dan Weslly Johannes yang ingin berbagi lewat karya mereka yang terbaru. Lewat kurator Sastra Atelir Ceremai, acara ini menjadi program BAKAR #6. Kolaborasi ini sangat disambut baik oleh kedua penulis tersebut yang sebelumnya menulis buku secara bersama-sama. Diskusi santai mengenai buku baru mereka yang berjudul Selamat Datang, Bulan yang ditulis oleh Theoresia Rumthe dan Bahaya-bahaya yang Indah oleh Weslly Johannes disambut baik oleh para penggemar mereka.

Read More

Diskusi buku Keping-keping Kota Karya Udji Kayang

Malam Minggu memang jeda waktu yang tepat untuk melegakan segala beban di pundak dan kening yang terus-terus mengkerut. Nongkrong dengan segelas teh atau kopi sambil ngobrol-ngobrol menjadi rutinitas yang dicari-cari. Begitu juga setiap ateliran yang datang, sebelum memasuki hari Senin yang ribut, merasakan kopi paste ala Atelir Ceremai sambil mendengarkan diskusi ringan sepertinya menjadi pilihan. Tanggal 16 November 2019, Atelir Ceremai kembali mencatat pertemuan pembaca dan penulis dalam acara Diskusi Buku Keping-keping Kota. Buku kumpulan esai yang diterbitkan Basabasi ini ditulis oleh Udji Kayang. Lalu diulas oleh Array, lelaki dengan logat Sunda yang kental.

Read More

BARTER #2 : Diskusi Teater Anak

Sebelum para ateliran datang ke Atelir Ceremai, semua sudah tersedia di bar dan bisa segera disajikan. Seperti jam buka yang sudah para ateliran ketahui, satu jam setelahnya, para ateliran datang satu orang, dua orang, bahkan tiga orang. Sesekali beberapa para orang terlihat gerak mereka mengarah ke pagar hitam Atelir Ceremai, sampai di depan nyatanya mereka berbalik badan ke arah jalan menunggu angkot biru yang sangat hati-hati di jalan itu berhenti tepat di dekat mereka. Durasi tunggu yang memakan waktu beberapa menit, daripada gabut, hitam bola mata itu mengarah ke tulisan Atelir Ceremai yang artsy atau menilik di balik dinding kaca barisan buku dan kopi-kopian yang mengerenyitkan dahi. Jalan Rawamangun Muka kali ini memang berisik, seperti ambulan lalu lalang tiga kali dengan sirine dan pawainya membawa jenazah untuk disemayamkan di taman bahagia Rawamangun.

Read More

Azzam Fi Rullah dan Filmnya: Sebuah Absurditas

Bagi kebanyakan orang, bulan Oktober merupakan ‘bulan seram’. Sebagai kurator film Atelir Ceremai, momen menarik seperti ini membuat saya berinisiasi untuk memutarkan film horor di bioskop kesayangan ateliran. Tetapi yang diputar bukan film horor seperti biasa, ini adalah film horor kelas B.

Film kelas B ini dipersembahkan Azzam Fi Rullah dari Kolong Sinema. Bagi yang asing dengan namanya, Azzam adalah sutradara film kelas B kenamaan bagi komunitas film, khususnya di Jakarta dan Jogja. Azzam sudah mengantongi enam film, di antaranya Pendakian Birahi (2017), Pocong Hiu Unleashed (2017), Azabku Azabmu (2018), Goyang Kubur Mandi Darah (2018), Kuntilanak Pecah Ketuban (2018), dan Rangsangan Gaib (2019). Ia melabeli dirinya sebagai “A true trashy and violent horror movie addict”. Sineas muda ini membawakan empat film andalannya, yaitu Rangsangan Ghaib, Goyang Kubur Mandi Darah, Azabku Azabmu, dan ditutup dengan Kuntilanak Pecah Ketuban.

Read More

JUANCOK #2: Bersama Azzam Fi Rullah dan karyanya.

Asupan gizi tontonan berkualitas terus gencar dilakukan Dewan Kurator Atelir Ceremai. Kalian sudah tahu, Imam sebagai kepalanya, yang tak memiliki makmum adalah seorang lelaki tampan begitu suka ria jika diajak ngobrolin film apa saja. Dia selalu antusias jika ada film-film terbaru yang sedang tayang di bioskop. Apalagi kalau ada yang ngajak nonton bareng, plus dibayarin. Gercep pasti. Wajar saja kalau wanita berdandan tebal di depan pintu masuk studio bioskop sudah tidak asing lagi dengan abang Imam ini. Tapi tidak hanya itu saja, film-film garapan sineas muda yang tidak tayang di bioskop kesayangan kita pun diapresiasi sama rata oleh Imam, sebaiknya oleh semua masyarakat. Karena belum tentu yang masuk dalam ruang bioskop lebih baik dibanding yang membagikan karyanya lewat media yang lain. Bukan begitu, Ferguso?

Read More

Bakar #5: Ngobrolin Apa-apa Siapa-siapa dan Begini Begitunya Bertarung Dalam Sarung Karya Alfian Dippahatang

Dewan Kurator Sastra, M. Putera Sukindar, yang digadang-gadang kembaran pemeran Minke dalam film Bumi Manusia ini begitu gencar menyebarkan virus-virus literasi. Terbukti hal itu dari program Bakar (Bahas Karya) yang sudah kelima kalinya dilangsungkan. Atelir Ceremai ikut serta meramaikan karya-karya sastra yang masuk dalam Kusala Sastra Khatulistiwa 2018-2019. Alfian Dippahatang dengan karyanya yang berjudul Bertarung dalam Sarung merupakan salah satu yang masuk dalam daftar panjang KSK 2018-2019. Kebetulan Alfian juga akan melakukan residensi ke Prancis. Saat ia singgah sebentar di Jakarta, jadi Putera mengambil kesempatan untuk membahas karyanya.

Read More

Bakar #4: Ngomongin Apa-apa Siapa-siapa Kenapa-begitu Balada Supri

Dewan Kesenian Jakarta melihat kreativitas generasi ke generasi dalam bidang sastra, khususnya novel terus berkembang. Secara serius, DKJ pada skala yang telah ditentukan, selalu mengadakan sayembara penulisan novel. Sayembara yang telah lama diadakan ini menjadi ajang atau batu lompatan bagi penulis-penulis muda untuk memperkenalkan karyanya. Ajang ini berkualitas dengan sistim yang dibuat dan juri yang tidak perlu diragukan lagi kiprahnya di dunia sastra. Pada tahun 2018, DKJ mengadakan sayembara penulisan novel yang diikuti oleh 245 naskah yang telah lolos seleksi administrasi. Dan di akhir tahun 2018, DKJ mengumumkan tiga naskah pemenang. Orang-orang Oetimu karya Felix K. Nesi menjadi pemenang pertama, Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman karya Ahmad Mustafa sebagai pemenang kedua, dan Balada Supri karya Mochamad Nasrullah sebagai pemenang ketiga.

Read More

Pengantar Membaca Balada Supri

“Panta Rhei”, pekik Heraklitus, filsuf Yunani itu. Sejarah itu berulang, katanya. Dalam keberulangannya, sejarah bukan saja kerap memperlihatkan rantaian tragedi, namun juga selalu ditulis oleh pemenang, yakni negara dan tentara. Pada narasi sejarah yang dipilih itu, selalu ada yang tidak masuk hitungan; yang disingkirkan. Mereka adalah pihak-pihak yang bukan saja dianggap tidak penting; melainkan dalam penulisan sejarah acapkali dilekatkan dengan pelbagai stereotip: jahat, culas, brengsek, bahkan keji. Merekalah orang-orang yang ditulis kalah dalam sejarah.

Historiografi sejarah kita selama ini didominasi oleh narasi militerisme dan politik perebutan kekuasaan. Tentu saja ada upaya-upaya yang menawarkan sejarah dalam perspektif berbeda dalam buku teks. Misalnya tulisan jurnalisme sastrawi Linda Christanty, berjudul Hikayat Kebo di majalah Pantau. Linda secara menarik menjadikan Kebo untuk merekam sebuah titik penting dalam sejarah, yakni mencuatnya kekerasan massa di Jakarta pasca kejatuhan rezim Orde Baru. Dalam tulisan itu—maupun cerpen-cerpen Linda—kita dapat membacanya sebagai upaya Linda untuk menyatakan bahwa sejarah nasional dan resmi tidak akan bermakna apabila tanpa sejarah lokal atau sejarah keluarga.

Read More

Gundala di Tengah Kota: Antara Urbanisme dan Heroisme

Hari ini Atelir Ceremai buka lebih awal dari biasanya, pukul 15.00 wib. Lebih cepat satu jam dari biasanya. Sejak siang, kepala toko Atelir Ceremai sudah mempersiapkan tata panggung untuk acara hari itu. Bangku penonton dipersiapkan lebih banyak dari biasanya, prediksi kuat mengatakan akan banyak ateliran yang datang. Pengeras suara sudah tegak letaknya di luar ruangan, dua pelantang pun sudah stand by kalau-kalau akan digunakan. Pengeras suara ini dibutuhkan karena mengingat kalau masa di dalam sudah penuh dan antisipasi agar ateliran di luar yang tidak bisa masuk atau sambil merokok tetap dapat mendengarkan obrolan seru di dalam.

Terik hari Rabu, 16 Oktober 2019, Jakarta Center for Cultural Studies (JCCS) mengadakan diskusi mereka yang kedua dengan tema Gundala di Tengah Kota: Antara Urbanisme dan Heroisme. Antara tema dan pembicara yang pas membuat acara ini ditangkap ramai oleh para ateliran, contohnya seperti Seno Gumira Ajidarma, Lilawati Kurnia, Lily Tjahjandari, Henry Ismono (Penulis biografi Harya Suraminata). Acara ini pun dimoderatori oleh dosen tampan, Irsyad Ridho. Konon katanya, JCCS.ID (LINK INSTAGRAM) merupakan sekelompok alumni cultural studies UI.

Read More

Bakar #3: Ngobrolin Apa-apa Siapa-siapa dan Begini Begitu Sepak bola

Bulan Oktober yang tidak begitu spesial-spesial amat bagi mereka yang masih jomblo, di hari Minggu yang begitu-begitu saja. Tapi Atelir Ceremai sedang spesial dan tidak begitu-begitu saja. Selalu saja ada kegiatan. Selalu saja ada ruang proses apresiasi dan transfer kreatif yang semakin padat.  Sifat yang terbuka ini, mendatangkan banyak kebahagiaan dan uang bukan jadi patokan.

Suasana jalan tak begitu ramai betul. Simpang tiga Atelir Ceremai masih dilalui angkot biru yang ugal-ugalan. Bocah dengan baju yang kebesaran dan kulit berias coklat mengatur lalu lintas, cita-cita menjadi polisi yang belum kesampaian atau berlagak tidak perlu seragam-seragam amat untuk mengatur jalan.

Ladenis yang bertugas hari itu, menyapu dan mengepel lantai marmer putih Atelir Ceremai sambil memandang ke luar dari kaca. Bangku-bangku sudah di susun rapi menjelang acara. Dua kursi pembicara dan satu kursi moderator sudah tertata, satu meja di depan pembicara masih kosong.

Read More

Eksekusi dari Sudut Sempit

“Suatu negara telah mencapai peradabannya secara maksimal jika pertandingan sepak bola dapat terlaksana tanpa wasit” -José Luis Coll (aktor dan penulis Spanyol)

Sebuah anekdot yang subtil. Di zaman Victorian, wasit tidaklah diperlukan karena sepak bola pada dasarnya dibuat berdasarkan gentleman’s agreement. Sebuah peristiwa yang sebelumnya dikenang dengan berbagai sudut: hiburan populer dari pelatihan militer, mitos, dan pertaruhan merebutkan kesenangan duniawi.

Buku Mengapa Sebelas Lawan Sebelas? terbit pertama kali pada tahun 2017 di Kolombia. Luciano Wernicke, penulis olahraga kenamaan Argentina dengan cermat melakukan riset dari berbagai sudut yang jarang kita ketahui. Saya tentu saja sebelumnya tidak tahu bahwa kata “gol” berasal dari puisi William de Shoreham (penyair Inggris). Kata tersebut berasal dari istilah inggris kuno, yaitu “gal” yang bermakna “batas” atau “sasaran”. Pertanyaan-pertanyaan lain muncul di dalam buku ini. Ada 100 topik tematik yang dibahas. Misalnya, saya langsung iseng saja untuk menjawab pertanyaan di blurb belakang buku terbitan Majin Kiri.

Read More

RUMUS #1 : Coba Launching Missa Solomnis

Sore hari, dewan kurator dengan beberapa orang sukarelawan membantu mempersiapkan setting ruang untuk agenda malam ini. Gusti, lelaki riang ini tampak kebingungan harus seperti apa dan deg-degan menghadapi malam nanti. Ia kebingunan bagaimana agar tampak bagus dan berkesan ketika ateliran datang menghadap program Ruang Musik yang diinisiasi oleh tim kurator seni musik Atelir Ceremai.

Empat baris susun kursi yang miring, alat-alat musik yang ditata rapi di sudut kanan hadapan penonton dan satu bangku untuk moderator. Pencahayaan malam Minggu, 12 Oktober 2019 itu tampak berbeda dengan sentuhan warna hijau di sisi kanan menyorot ke ruang tengah panggung dan warna biru berada di sisi kiri mengisi sebagian ruang. Campuran hijau yang tenang dan biru yang sendu tampak lebih sesuai dan cocok untuk penampilan malam itu. khusus untuk Gusti, si moderator, kursinya dihiasi lampu warna oren.

Read More

Lokalis X Atelir Ceremai: Ngomong-ngomong Episode 2

Sejak senja menjelang azan Magrib, sebuah mobil hitam masuk pagar wilayah parkir, membawa alat-alat sound system lewat pintu belakang setelah pintu belakang mobil dibuka. Barang-barang dibiarkan tergeletak di dalam ruang Atelir Ceremai. Karena lelah dan macet, rokok dan kopi tubruk buatan ladenis dapat menenangkan hati sekejap.

Selepas Magrib, orang yang mengepalai bidang sound system mulai mengutak-atik. Tak perlu waktu lama, pelantang sudah berbunyi. Dengan dua speaker, satu di belakang pembicara dan satu lagi berada di ruang luar. Maksudnya barangkali, agar semua yang ada di Atelir atau bahkan yang sedang melewati tempat itu dapat mendengarkannya. Di pintu masuk, ada sebaris kabel yang sudah dilem agar tidak terjadi kecelakaan ketika lalu lalang atau saat mengantar minuman. Ditambah lagi, tidak hanya dua speaker, ada juga layar seperti televisi dan posisinya berada di belakang pembicara. Teman-teman dari Lokalis yang menyiapkan segalanya menjadi lebih meriah dan bergema.

Read More

Lagu-laguan Akustik #1 : #JonoTerbakarWorldTour

Minggu, 6 Oktober 2019 menjadi malam yang padat dan penuh tawa di Atelir Ceremai. Pasalnya, pada malam yang tanpa hawa dingin itu dewan kurator musik Atelir Ceremai yang dikepalai Gusti Irawan Wibowo, seseorang cowok ucul dan manis mengadakan lagu-laguan akustik. Jono Terbakar menjadi penampil utama dalam kegiatan ini. Salah satu musisi terbaik dan bersahaja dari Yogyakarta ini memang sedang melakukan tur setingkat dunia yang diberi nama #JonoTerbakarWorldTour.

Read More

BAKAR #2 Panji Koming Nyingkap Denmas: Representatif Budaya Jawa dalam Perilaku Elite Politik semasa Pemilu 2014

Bahas Karya edisi kedua yang diusung oleh tim Dewan Kurator Sastra yang dikepalai oleh M. Putera Sukindar, lelaki berkulit putih dengan wajah mengalahkan aktor utama Dilan dan Bumi Manusia yang menjadi idaman para hawa milenial itu membahas buku Panji Koming Nyingkap Denmas:Representatif Budaya Jawa dalam Perilaku Elite Politik semasa Pemilu 2014 yang ditulis oleh Bagus Prasetiyo.

Menemani sebagai moderator, Sentyaki Satya Putra atau yang sudah kebiasaan dipanggil Asenk dengan gelar komikusnya, membawa obrolan menjadi santai dan panjang, Minggu malam, 29 September 2019 terasa sedap. Sedap bagi para jomlo karena pakansinya tidak diisi dengan galau-galauan, sedap bagi diri yang memiliki alternatif agenda lain karena pertemuan dengan gadis tak kunjung jadi. Membahas tentang komik.

Read More

BARTER #1: Persona-Aldiansyah Azura

Ateliran mengaduk kopi paste yang baru bersandar di pelabuhan meja. Di pelabuhan meja lainnya, tahu kepo dan liciti bersanding menghadap mulut-mulut ateliran. Kebetulan di luar sedang sepi, hanya satu meja yang terisi. Untungnya di ruang dalam, satu meja yang sunyi. Ada yang mengambil buku Jono Terbakar di rak buku Atelir Ceremai, ada yang asik mengobrol dengan gawainya. Memang malam minggu ini cukup sepi yang bertandang, alasannya barangkali, kantong sedang kering.     

Read More

Pascadiskusi: Mengurai Film Parasite (2019) oleh Ulasinema

Ulasinema.com dan komunitas seni Atelir Ceremai menghelat diskusi film bertajuk Parasite dan Kesenjangan Sosial pada Jumat sore (20/9) di Rawamangun, Jakarta Timur. Selama diskusi, Parasite memberikan peluang penafsiran dan sudut pandang yang beragam.

Film Parasite, berjudul asli Gisaengchung (2019), merupakan film garapan Bong Joon-hoo. Sineas asal korea ini secara apik menampakkan kesenjangan sosial yang ekstrem di Korea, yang juga termasuk isu di beberapa negara. Bong tidak menunjukkannya dengan sentimen habis-habisan orang kalangan bawah terhadap orang kalangan atas, atau sebaliknya. Ia membungkusnya dengan tragedi-komedi yang divisualkan dengan “pertemuan” keluarga kaya dan keluarga miskin. Si miskin secara “pintar” menipu si kaya.

Read More

RAGAM #3: Memodifikasi Gedung DPR

            Nampaknya seluruh wilayah di Indonesia menolak keras dengan revisi RUU yang dinilai kontroversial itu rencananya akan disahkan oleh DPR tersebut. Para mahasiswa seluruh Indonesia mengecam tindakan ini dan melakukan aksi di Senayan. Media sosial penuh dengan foto, video, dan tulisan yang menggambarkan betapa negara ini sedang mengalami sakit yang amat parah serta akal sehat yang kacau. Menghujat adalah gaya tutur yang sudah kepalang ramai berseliweran di media. Kantor DPR menjadi sasaran oleh ribuan mahasiswa dari kampus-kampus yang berada di Jakarta dan sekitar untuk menyampaikan aspirasi mereka. Aspirasi masyarakat yang diwakili oleh para mahasiswa yang turun ke jalan mendapat tindakan yang tidak menyenangkan oleh aparat kepolisian. Orang yang tidak setuju dengan RUU yang terbilang terlalu berlebihan hingga masuk ke ranah privasi itu masing-masing mengambil peran.

Read More

JUANCOK #1: Nonton Bareng dan Diskusi Film Parasite

Kurator Film Atelir Ceremai, Imam, berinisiasi mengadakan program nonton bareng dan diskusi Juancok. Eit, sabar dulu. Nonton bareng dan diskusi ini tidak akan juancok-juancok-an, karena maksud Juancok adalah Jumat Nonton Cinema Ok. Jumat merupakan hari baik untuk melebur dalam satu pembicaraan membahas sesuatu ditemani dengan kopi paste atau isminti. Setiap Jumat, Dewan Kurator Film Atelir Ceremai akan mengadakan nonton bareng dan diskusi tentang film dalam atau luar negeri, panjang atau pendek.

Read More

RAGAM #2: Iwan Simatupang dan Puisinya

Kedua kalinya, tim kurator Rupa yang dikepalai oleh Nabila Yusufa alias Pacil kembali melakukan program rutin dewan kurator Rupa, Rabu Gambar. Dengan tema yang berbeda kali ini, sehabis Magrib Pacil kembali menodong para ateliran untuk menggambar lewat media yang masih sama, HVS putih polos.

Dengan gaya rambutnya yang khas, sedikit dengan penjelasan dan arahan, Pacil berhasil mengajak orang-orang menggambar Iwan Simatung. Maksudnya, menggambar puisi Iwan Simatupang yang berjudul Ballade Kucing dan Otolet.

Read More

Sore-sore Ngobrolin Cergam Medan

Sore Rabu. Terik tak lagi sepanas seperti sebelumnya. Satu per satu pengunjung datang. kursi sudah disusun berbaris-baris menghadap dua kursi. Memang dua kursi itu diisi oleh pemantik dan pembicara beberapa menit sudah. Sambil menunggu kursi yang lain terisi, pemantik dan pembicara terus ngobrol berdua. Sampai-sampai orang yang baru datang mengira bahwa diskusi sudah mulai sedari tadi.

Memang, sore Rabu, 18 September 2019, dewan kurator sastra Atelir Ceremai bikin acara lagi yang kali ini membicarakan Cergam Medan. Irsyad Ridho, dosen kesayangan para mahasiswa dan katanya keren itu, dengan suara beratnya menjadi pemantik. Lalu, lawan bicaranya kali ini pecinta dan kolektor cergam. Bisik-bisik tetangga, Henry Ismono juga yang menuliskan biografi mendiang Hasmi, kreator Gundala Putera Petir yang saat ini sedang diomongin banyak orang.

Read More

Kita Diputar-putar tentang Mana yang Nyata dan yang Tidak

Hasil pembacaan novel Faisal Oddang Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa oleh Khurin Dini, dini6670@gmail.com, (Mahasiswa Sastra Indonesia UNJ 2016)

“Kamu tak perlu memberinya identitas,” Allisa memotong Clevie, “biarkan itu jadi olok-olok pada kehidupan dan juga kenyataan.”

-dikutip dari Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa karangan Faisal Oddang.

Makruh memang hukumnya, jika menilai sebuah buku hanya dari tipis-tebalnya jumlah halaman. Seperti juga novelet karya Oddang yang baru saja saya baca ini. Oddang menulis novelet yang berbeda dari tulisan sebelumnya. Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa, ditulis lebih pendek dari sebuah novel, dan lebih pajang dari sebuah cerpen. Biasanya tulisan dengan panjang 116 halaman itu dapat dibaca dengan sekali duduk, tapi novelet ini nyatanya menyita waktu saya selama berhari-hari untuk sampai pada kata “mengerti”.

Read More

BAKAR #1 : Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa

Bakar merupakan singkatan dari bahas karya, yaitu program dari dewan kurator sastra yang dikepalai oleh M. Putera Sukindar. Ngobrol santai di Atelir Ceremai pada Selasa malam 17 September 2019 membahas Novelet Faisal Oddang Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa dalam suasana yang tidak serius-serius amat, tegang-tegang amat, atau sampai tonjok-tonjokkan.

Wanita tercantik satu-satunya di antara semua laki-laki yang hadir, Khurin Dini sebagai pemantik diskusi mengungkapkan Oddang menulis dengan penuh humor yang gelap.

“Beberapa kali saya sempat dibuat menyeringai. Seperti saat tokoh yang sedang menulis novel kemudian merancap dengan tulisan yang ia buat sendiri. Lelucon yang sepertinya ‘deket ngga deket’”

Read More

RAGAM #1: Bebas

Pacil, wanita cantik dan molek datang ke Atelir membawa lembaran HVS dengan spidol diameter kecil warna-warni. Orang-orang mengira dia sedang ditugaskan oleh dosen untuk menggambar sesuatu. Tetapi yang ada, ia menodong setiap orang yang ada di Atelir—baik yang dikenal maupun tidak—dengan kertas selembar dan satu buah spidol warna.

“Bebas mau gambar apa aja.” Dengan muka datar Pacil terus berjalan ke orang lain yang berada di dekatnya.

Read More